Rabu, 28 September 2011

Tangisan Untuk Negeri Pertiwi

Aku terjebak senyuman-senyuman penuh kepalsuan
Aku terjebak manusia-manusia iblis berkedok malaikat
Aku terjebak deretan kepala yang haus kekuasaan
Aku terjebak ketamakan makhluk-makhluk serakah
Aku terjebak kemunafikan
Aku terjebak, benar-benar terjebak
Aku hanya bisa menjerit tanpa di dengar
Aku hanya anak bangsa yang tak berdaya melawan kekuasaan
Aku hanya bagian bangsa kecil yang menjadi korban pengkhianatan
Tuhan.......
Akan dibawa kemana negeri ini ?
Akan jadi apa bangsa ini, Tuhan....
Dimana kejujuran itu ?
Dimana keadilan itu ?
Dimana amanat-amanat yang telah mereka emban ?
Dimana ?
Dimana ?


Serang, 10 Januari 2010

Senin, 26 September 2011

Sesuatu yg ramijud itu disebut "....." *silahkan isi menurut kepercayaan masing-masing*

Aku tak pernah sengaja unk mengingatmu, tapi dlm diam bayanganmu selalu menyambutku.
Biarkan... Aku menikmatinya, karena mungkin hanya itu yg bisa aku lakukan. Pernah rasanya ingin marah, tapi buat apa ? Pernah rasanya ingin membenci, tapi apa untungnya ? Bukankah rasa bukan sesuatu yg harus diributkan dan dipaksakan ?
Dan jangan pernah coba untuk lari, karena sejauh apapun aku lari toh aku akan tetap membawanya pergi bersamaku. Syukuri. Hanya itu yg kita butuhkan.
Entah kapan rasa ini datang, entah kapan semuanya dimulai, dan entah kapan semuanya berakhir. Yg aku tahu sampai detik ini aku masih mampu, ternyata.
Kita tidak akan pernah tahu waktu akan membawa kita kemana, ke jalan seperti apa. Jadi, tak perlu diratapi, tak ada yg perlu dirisaukan. Semuanya hanya mengenai waktu.
Ya, sebenarnya hanya sesederhana ini. Tapi.... kadang kita terlalu mendramatisir keadaan, kadang kita memaksa keadaan unk berpihak pada kita, selalu menempatkan diri sendiri diposisi orang yg paling tersakiti. Berlebihan. Sehingga kita terpuruk oleh kesakitan yg kita buat sendiri. Membuatnya menjadi benang kusut yg amat rumit.
Kebahagiaan itu selalu ada, jika kamu mau mempercayainya.
Terima kasih untuk kamu yg hampir dua tahun ini tanpa disadari telah banyak mengajarkan apa arti dari rasa ini. Jika memang aku dan kamu ditakdirkan untuk menjadi kita, waktu akan mempertemukan kita dipersimpangan jalan yg sama, dengan jalannya sendiri, dengan caranya yg unik. Dan jika tidak, waktu akan mempertemukan aku dengan orang yg tepat yg aku butuhkan. Bukan kamu.
Sekarang, syukuri semuanya. Bagaimanapun rasa itu. Tersenyumlah.

*Untuk kamu, rindu itu. Meskipun aku tidak tahu kamu mengingatku atau tidak. Semangat. Berbahagialah. "Aku adalah rumahmu, selalu ada kapanpun kamu ingin pulang. Tapi rumahpun jika terlalu lama dibiarkan kosong, dia tidak bisa ditempati lagi.*