Senja memberikan draf kepada atasannya.
"Buku baru?"
"Iya bos."
"Scabious. Bahasa apa itu Tiwi?" tanya bosnya tetap dengan wajah datar.
Senja menghela nafas, "Bos, panggil saya Senja, itu nama panggilan saya."
"Lah, bukannya namamu itu Melodi Senja Pertiwi? Saya lebih suka memanggil kamu Tiwi. Sama saja toh, sama-sama namamu." timpal bosnya tetap dengan wajah yang datar.
"Jadi apa arti dari Scabious, Tiwi?" lanjutnya.
Sebenarnya Senja pun sudah terbiasa dengan panggilan bosnya, bertahun-tahun dia sudah membiasakan diri dengan panggilan bosnya itu. Tapi tetap saja, mengganjal untuknya.
"Scabious itu salah satu jenis bunga yang artinya cinta yang tak beruntung." jawab Senja.
"Menarik. Saya suka judulnya." komentar bosnya sambil menatap dingin Senja. Tatapan yang lumayan lama sehingga membuat Senja sedikit grogi. "Cocok, seperti kamu." kata bosnya kemudian.
"Bos!!!" teriak Senja tidak terima.
Bosnya hanya tersenyum melihat reaksi Senja.
"Saya akan baca dulu, nanti saya hubungi lagi kamu secepatnya."
"Baik, bos." kata Senja dengan senyum cerah.
=======
"Tiwi, saya sudah membaca semuanya." bosnya diam sejenak, Senja pun yang duduk di depannya tegang, menunggu keputusan apakah novelnya akan dicetak atau tidak.
"Mengapa kamu suka sekali menulis cerita sad ending Tiwi?" tanya bosnya kemudian.
"Karena cerita sad ending yang laris dibeli bos, saya pernah membuat happy ending tapi tidak terlalu bagus peminatnya." jawab Senja dengan diplomatis.
"Bukan karena kamu sedang mencurahkan isi hatimu?"
"Ya!!" sanggah Senja.
Mereka berdua tersenyum. Mereka mungkin penulis dan bos, tapi juga mereka teman yang cukup dekat.
"Rasanya saya ingin bertemu dengan tokoh Kala pada novel ini."
"Kenapa?"
"Karena dia banyak terluka. Saya ingin mengatakan tak apa untuk menangis. Tak apa untuk tidak baik-baik saja. Bisa kamu sampaikan itu kepada Kala, Tiwi?" kata bosnya, dengan wajah serius. Mereka berdua terdiam.
"Bos, bos bisa mengatakan itu sendiri ketika novel ini dirilis dan membelinya." kata Senja memecah keheningan. Senja tersenyum sambil menaikturunkan alisnya. Senja sangat pintar dalam urusan merubah suasana.
Bosnya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum,
"Baiklah, lolos cetak." seru bosnya menatap Senja.
Senja pun tersenyum bahagia.
Dalam persekian detik mereka saling menatap, sesuatu terbersit dalam hati Senja, 'sempat kuingin menyelami lebih dalam sorot mata itu'.
=======
"Bos, kenapa bos membatalkan pertunangan?" tanya Senja memecah keheningan makan siang antara dirinya dan bosnya.
Bosnya nampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Senja, dia menyimpan sendok makannya dan minum, kemudian menjawab, "Kenapa kamu bertanya Tiwi?"
"Saya hanya ingin tahu. Anggap saja ini riset untuk bahan menulis judul baru."
"Kenapa karakter Kala kau buat begitu pengecut Tiwi? Berbeda dengan karakter utama yang selalu kamu buat."
Senja ingin menyanggah pertanyaan bosnya itu, pertanyaannya saja belum mendapatkan jawaban, tapi bosnya malah bertanya balik.
Namun, Senja tidak mau berdebat. Dia mengenal karakter bosnya dengan baik. "Karena saya ingin menunjukkan sisi rapuh wanita, sisi rapuh saya. Tidak apa merasa takut untuk mencintai seseorang hanya karena takut orang itu tidak punya perasaan yang sama. Tidak apa untuk menjadi pengecut. Menangis dan meratapi nasib 'kenapa harus aku'. Tidak apa untuk bersembunyi, kemudian menghilang dari orang-orang."
Bosnya hanya dapat menatapnya lekat. "Bagaimana kamu bisa menilai perasaan orang lain atas asumsimu sendiri?"
"Ada peperangan yang tidak bisa kita menangkan, bos. Untuk apa berperang kalau kita tahu akan kalah?"
"Itu asumsi, Tiwi."
"Itu pilihan." kata Senja tegas.
Bosnya hanya terdiam. Dia tahu Senja adalah wanita yang keras kepala. "Kamu mau tahu kenapa saya membatalkan pertunangan? Karena saya menyukai orang lain." bosnya akhirnya menjawab pertanyaan Senja.
"Senja..... Katakan pada Kala, tidak apa untuk terlihat lemah di depan orang lain." tutup bosnya, kemudian pergi.
Itu pertama kalinya bosnya memanggil namanya Senja.
=======
Buku Senja menjadi best seller, semua orang di kantornya membuat pesta perayaan kecil-kecilan untuk Senja.
Senja mendapatkan sebuah amplop berwarna biru cerah dengan setangkai bunga mawar putih di mejanya. Disamping amplopnya tersimpan satu album foto.
Senja membuka album foto yang berisi wajah Senja yang sedang tersenyum. Kemudian dia membuka amplop yang berisi sepucuk surat yang berbunyi,
Mari kita menikah.
Kita buat pesta kita sesederhana mungkin, tapi semenarik mungkin.
Satu hari yang bisa kita ingat selamanya.
Itupun kalau kamu mau.
-Biru-
Tiba-tiba hati Senja terasa hangat. Dia melihat bosnya yang sedari tadi memperhatikannya.
Mereka berdua tersenyum.
Gie's Soul
Hidup itu seperti lagu, setiap orang mempunyai partiturnya masing-masing. Itu yang menjadikan irama mereka berbeda satu sama lain.
Sabtu, 06 April 2019
Kamis, 31 Agustus 2017
My August End.
Seperempat abad sudah. And my August is over.
Banyak hal yang telah dilalui hingga sampai mencapai titik ini. Meskipun mungkin ini bukanlah tujuan. Banyak pertanyaan yang kemudian perlahan-lahan menemukan jawaban. Banyak hal yang sedikit demi sedikit kamu ketahui dan menjadi penerang.
*Mengapa kamu menjadi guru?
Menjadi guru memang bukan cita-cita saya, tapi menjadi guru adalah tanggung jawab saya.
4 tahun saya susah payah untuk menyelesaikan gelar S1, menjadi seorang sarjana pendidikan. Untuk apa jika gelar sarjana pendidikan saya tidak bermanfaat?
Menjadi guru adalah tanggung jawab atas pilihan yang saya buat.
*Apakah tidak ada keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?
Pekerjaan apa yang lebih baik dari ini?
Satu tahun saya melarikan diri karena tidak ingin menjadi guru. Karena saya pikir saya dapat mendapatkan pekerjaan lebih baik daripada ini.
Tapi saya tidak pernah mendapatkan apa-apa dan tidak pernah sampai kemana-mana.
Tapi Allah menempatkan saya di sini, menjawab do'a-do'a saya.
"Ya Allah, tunjukkan pekerjaan yang terbaik untuk hamba. Dimanapun saya dapat menjadi orang yang lebih baik dan lebih taat kepada-Mu."
Mungkin yang terbaik untuk orang lain, belum tentu terbaik untuk kita.
Maka dari itu bersyukurlah. ^^
Banyak hal yang telah dilalui hingga sampai mencapai titik ini. Meskipun mungkin ini bukanlah tujuan. Banyak pertanyaan yang kemudian perlahan-lahan menemukan jawaban. Banyak hal yang sedikit demi sedikit kamu ketahui dan menjadi penerang.
*Mengapa kamu menjadi guru?
Menjadi guru memang bukan cita-cita saya, tapi menjadi guru adalah tanggung jawab saya.
4 tahun saya susah payah untuk menyelesaikan gelar S1, menjadi seorang sarjana pendidikan. Untuk apa jika gelar sarjana pendidikan saya tidak bermanfaat?
Menjadi guru adalah tanggung jawab atas pilihan yang saya buat.
*Apakah tidak ada keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?
Pekerjaan apa yang lebih baik dari ini?
Satu tahun saya melarikan diri karena tidak ingin menjadi guru. Karena saya pikir saya dapat mendapatkan pekerjaan lebih baik daripada ini.
Tapi saya tidak pernah mendapatkan apa-apa dan tidak pernah sampai kemana-mana.
Tapi Allah menempatkan saya di sini, menjawab do'a-do'a saya.
"Ya Allah, tunjukkan pekerjaan yang terbaik untuk hamba. Dimanapun saya dapat menjadi orang yang lebih baik dan lebih taat kepada-Mu."
Mungkin yang terbaik untuk orang lain, belum tentu terbaik untuk kita.
Maka dari itu bersyukurlah. ^^
Selasa, 30 Agustus 2016
Surat yang takkan pernah sampai
Bandung, 31 Agustus 2016
Teruntuk: Agie
Aku tulis surat ini, surat yang mungkin tak akan pernah sampai. Waktu begitu cepat berlalu bukan? Sisa waktumu di dunia semakin berkurang, dan kerutan di wajahmu semakin bertambah. Kamu sudah tidak lagi muda ternyata, hai anak muda! Lalu, mengapa aku memanggilmu anak muda? Ah... Entahlah! Mungkin di mataku kamu belum cukup tua di usiamu.
Tidakkah kota itu membuatmu merasa kesepian? Memang, terkadang tempat yang sangat kamu dambakan justru adalah tempat yang paling membuatmu kesepian. Mungkin sikapmu yang mengalir seperti air sedikit membantumu dengan kesunyian. Terlebih, kamu bisa menciptakan duniamu sendiri, obat dari kesepian. Dimensi yang sulit dimengerti orang lain.
Berhentilah menyapa kenangan. Apalagi kenangan yang bisa membuatmu merindukan seseorang. Tulislah tentang seseorang yang baru. Tapi, aku mengerti, kamu adalah wanita yang paling abstrak yang pernah aku tahu. Akan sulit menemukan seseorang yang satu pemikiran denganmu, memahami jalan pikiranmu, dan satu visi dan misi denganmu. Bahkan dalam menjalankan hubungan kamu memikirkan visi misi seperti sebuah pemerintahan. Namun, seperti itulah kamu. Bagimu sebuah keluarga merupakan bentuk pemerintahan kecil. Percayalah, suatu hari pasti akan ada seseorang yang menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan "Selamat Ulang Tahun" untukmu.
Teruntuk: Agie
Aku tulis surat ini, surat yang mungkin tak akan pernah sampai. Waktu begitu cepat berlalu bukan? Sisa waktumu di dunia semakin berkurang, dan kerutan di wajahmu semakin bertambah. Kamu sudah tidak lagi muda ternyata, hai anak muda! Lalu, mengapa aku memanggilmu anak muda? Ah... Entahlah! Mungkin di mataku kamu belum cukup tua di usiamu.
Tidakkah kota itu membuatmu merasa kesepian? Memang, terkadang tempat yang sangat kamu dambakan justru adalah tempat yang paling membuatmu kesepian. Mungkin sikapmu yang mengalir seperti air sedikit membantumu dengan kesunyian. Terlebih, kamu bisa menciptakan duniamu sendiri, obat dari kesepian. Dimensi yang sulit dimengerti orang lain.
Berhentilah menyapa kenangan. Apalagi kenangan yang bisa membuatmu merindukan seseorang. Tulislah tentang seseorang yang baru. Tapi, aku mengerti, kamu adalah wanita yang paling abstrak yang pernah aku tahu. Akan sulit menemukan seseorang yang satu pemikiran denganmu, memahami jalan pikiranmu, dan satu visi dan misi denganmu. Bahkan dalam menjalankan hubungan kamu memikirkan visi misi seperti sebuah pemerintahan. Namun, seperti itulah kamu. Bagimu sebuah keluarga merupakan bentuk pemerintahan kecil. Percayalah, suatu hari pasti akan ada seseorang yang menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan "Selamat Ulang Tahun" untukmu.
Kamis, 05 Mei 2016
Lika-Liku Luka
Dia
mengatakan, dia ingin menjadi langit. Dan aku
jawab, “Baiklah, jadilah langit. Dan aku akan menjadi senja. Senja yang
memberikan warna pada langit. Senja yang beberapa saat bersama langit, kemudian
menghilang.”
Aku pernah
merasakannya, bahwa perasaan adalah sesuatu yang mengalir apa adanya. Saat itu,
pernah terasa menyenangkan. Saat kita masih bertanya “apa itu cinta?” dengan
begitu polosnya, dan mencoba “memahami” dengan cara yang dewasa. Namun mungkin
kita terlalu berbeda. Aku yang tidak mudah memvisualisasikan perasaan, dan kamu
-seperti bagaimana lelaki yang lainnya- seseorang yang suka berpetualang dan
tantangan, seseorang yang masih mencari. Pada akhirnya aku melewatkanmu, dan
kita berjalan di jalan kita masing-masing.
Sebenarnya aku tidak
pernah yakin, akan pernyataanmu yang serba ambigu kala itu. Selama ini tak
nampak ada yang berbeda dari sikapmu, meski saat itu kudengar ada kegugupan di
nada bicaramu. Meski katamu kita tak bisa bersama karena suatu keadaan. Suatu
keadaan yang sangat aku pahami, pencapaianmu. Satu-satunya kesalahanmu adalah
tidak mengatakan “jangan menungguku”.
Hari itu aku menangis. Sadar
bahwa aku bukanlah lagi pemeran utama di cerita kehidupanmu. Atau mungkin lebih
tepatnya tidak pernah. Aku sempat membencimu, membencinya yang membuatmu
memunggungiku.
“Mungkin setiap kisah
harus ada yang terluka”, kataku kepada seorang sahabat. Kemudian sahabatku itu mengatakan,
“Akan ada dimana sebuah kisah yang tak melukai siapapun. Cinta yang dewasa”. Saat
itu aku mengerti bahwa sebuah hubungan adalah tentang pemahaman bukan tentang
persoalan menaruh kesalahan. Bukan tentang siapa yang jahat. Karena jika mau
mencari “penjahat” orang yang salah, maka itu adalah takdir. Takdir yang
membawa kita kepada skenario hidup yang seperti ini. Dan penulis skenario itu
adalah Allah. Bagaimana kita membenci Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia?
Yang Maha Tahu? Dan tentu kita pernah mendengar ini Jodo, Pati, Bagja, Cilaka, Kagungan Nu Kawasa. Yang harus aku
lakukan adalah menerimanya dengan dewasa. Meski aku bukan pemeran utama aku
punya pilihan untuk tidak terluka dan mengucapkan selamat tinggal dengan rela.
Apa yang mau
dipersalahkan atas perasaanmu dan perasaannya? Dia pun bukan tersangka yang
harus dijatuhi hukuman karena telah mencurimu. Terlebih dia bukan mencurimu
dariku. Dia telah memintamu dari Pemilik yang sebenarnya. Tak ada yang merebut,
tak ada yang harus dibenci. Hanya saja episode kisah antara aku dan kamu telah
berakhir. Aku hanya harus menerima dan memerankan peranku dengan baik sebagai second lead hingga akhir. Meski aku
adalah second lead dalam ceritamu
tapi aku akan menjadi pemeran utama di ceritaku selanjutnya, bersama tokoh yang
lain.
Kamu adalah pemahaman
yang terbaik. Meski tidak pernah ada cerita tertulis atas nama kita. Terima
kasih. Menemukanmu, dan seandainya.
Ya....
Ini aku wanita penyuka drama korea, wanita penyuka menulis, penyuka puisi,
penyuka tarian, penyuka segalanya. Dan aku sudah tidak lagi menunggunya. Jadi
mari kita saling tersenyum kembali tanpa ada rasa canggung. Seperti dulu. :)
-Gie
Kamis, 03 Maret 2016
Takut
Takut
t-a-k-u-t
te
a
ka
u
te
te a ta
ka u ku
t
ta-ku-t
ta-kut
takut
take out
Ada Allah bersamamu
Rasa
Rasa
Untuk sebuah rasa yang tak tersampaikan
Untuk semua pernyataan yang serba ambigu
Dan waktu yang terus berjalan
Menunggu dan bertahan
Atau....
Berpendar dan kemudian tergantikan
Diantara batas sepi dan lelah
Rasa berdiri risau
Mondar-mandir dalam kebisuan
Bersembunyi diantara kebisingan
Rasa sendiri,
Menghitung waktu menanti jawaban
Rasa berharap jawabannya adalah rasa
Serang, 30 Oktober 2012
Gie
Seandainya, Sekali Lagi
Seandainya, Sekali Lagi
Hening yang berkerak
Dalam diam yang masih bersajak
Mendamba bayangan
Menjebakku dalam kenangan
Senjaku memudar
Tertatih-tatih kuwarnai jingganya agar tetap berpijar
Hanya saja senja memilih berganti
Menyisakan jingga yang pucat pasi
Dan semua takkan sama lagi
Seperti yang kusadari
Seandainya masih bisa terulang
Sekali lagi
Seandainya....
Sekali lagi
27 Agustus 2014
Gie
Langganan:
Postingan (Atom)
