Bandung, 31 Agustus 2016
Teruntuk: Agie
Aku tulis surat ini, surat yang mungkin tak akan pernah sampai. Waktu begitu cepat berlalu bukan? Sisa waktumu di dunia semakin berkurang, dan kerutan di wajahmu semakin bertambah. Kamu sudah tidak lagi muda ternyata, hai anak muda! Lalu, mengapa aku memanggilmu anak muda? Ah... Entahlah! Mungkin di mataku kamu belum cukup tua di usiamu.
Tidakkah kota itu membuatmu merasa kesepian? Memang, terkadang tempat yang sangat kamu dambakan justru adalah tempat yang paling membuatmu kesepian. Mungkin sikapmu yang mengalir seperti air sedikit membantumu dengan kesunyian. Terlebih, kamu bisa menciptakan duniamu sendiri, obat dari kesepian. Dimensi yang sulit dimengerti orang lain.
Berhentilah menyapa kenangan. Apalagi kenangan yang bisa membuatmu merindukan seseorang. Tulislah tentang seseorang yang baru. Tapi, aku mengerti, kamu adalah wanita yang paling abstrak yang pernah aku tahu. Akan sulit menemukan seseorang yang satu pemikiran denganmu, memahami jalan pikiranmu, dan satu visi dan misi denganmu. Bahkan dalam menjalankan hubungan kamu memikirkan visi misi seperti sebuah pemerintahan. Namun, seperti itulah kamu. Bagimu sebuah keluarga merupakan bentuk pemerintahan kecil. Percayalah, suatu hari pasti akan ada seseorang yang menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan "Selamat Ulang Tahun" untukmu.