Bandung, 31 Agustus 2016
Teruntuk: Agie
Aku tulis surat ini, surat yang mungkin tak akan pernah sampai. Waktu begitu cepat berlalu bukan? Sisa waktumu di dunia semakin berkurang, dan kerutan di wajahmu semakin bertambah. Kamu sudah tidak lagi muda ternyata, hai anak muda! Lalu, mengapa aku memanggilmu anak muda? Ah... Entahlah! Mungkin di mataku kamu belum cukup tua di usiamu.
Tidakkah kota itu membuatmu merasa kesepian? Memang, terkadang tempat yang sangat kamu dambakan justru adalah tempat yang paling membuatmu kesepian. Mungkin sikapmu yang mengalir seperti air sedikit membantumu dengan kesunyian. Terlebih, kamu bisa menciptakan duniamu sendiri, obat dari kesepian. Dimensi yang sulit dimengerti orang lain.
Berhentilah menyapa kenangan. Apalagi kenangan yang bisa membuatmu merindukan seseorang. Tulislah tentang seseorang yang baru. Tapi, aku mengerti, kamu adalah wanita yang paling abstrak yang pernah aku tahu. Akan sulit menemukan seseorang yang satu pemikiran denganmu, memahami jalan pikiranmu, dan satu visi dan misi denganmu. Bahkan dalam menjalankan hubungan kamu memikirkan visi misi seperti sebuah pemerintahan. Namun, seperti itulah kamu. Bagimu sebuah keluarga merupakan bentuk pemerintahan kecil. Percayalah, suatu hari pasti akan ada seseorang yang menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan "Selamat Ulang Tahun" untukmu.
Hidup itu seperti lagu, setiap orang mempunyai partiturnya masing-masing. Itu yang menjadikan irama mereka berbeda satu sama lain.
Selasa, 30 Agustus 2016
Kamis, 05 Mei 2016
Lika-Liku Luka
Dia
mengatakan, dia ingin menjadi langit. Dan aku
jawab, “Baiklah, jadilah langit. Dan aku akan menjadi senja. Senja yang
memberikan warna pada langit. Senja yang beberapa saat bersama langit, kemudian
menghilang.”
Aku pernah
merasakannya, bahwa perasaan adalah sesuatu yang mengalir apa adanya. Saat itu,
pernah terasa menyenangkan. Saat kita masih bertanya “apa itu cinta?” dengan
begitu polosnya, dan mencoba “memahami” dengan cara yang dewasa. Namun mungkin
kita terlalu berbeda. Aku yang tidak mudah memvisualisasikan perasaan, dan kamu
-seperti bagaimana lelaki yang lainnya- seseorang yang suka berpetualang dan
tantangan, seseorang yang masih mencari. Pada akhirnya aku melewatkanmu, dan
kita berjalan di jalan kita masing-masing.
Sebenarnya aku tidak
pernah yakin, akan pernyataanmu yang serba ambigu kala itu. Selama ini tak
nampak ada yang berbeda dari sikapmu, meski saat itu kudengar ada kegugupan di
nada bicaramu. Meski katamu kita tak bisa bersama karena suatu keadaan. Suatu
keadaan yang sangat aku pahami, pencapaianmu. Satu-satunya kesalahanmu adalah
tidak mengatakan “jangan menungguku”.
Hari itu aku menangis. Sadar
bahwa aku bukanlah lagi pemeran utama di cerita kehidupanmu. Atau mungkin lebih
tepatnya tidak pernah. Aku sempat membencimu, membencinya yang membuatmu
memunggungiku.
“Mungkin setiap kisah
harus ada yang terluka”, kataku kepada seorang sahabat. Kemudian sahabatku itu mengatakan,
“Akan ada dimana sebuah kisah yang tak melukai siapapun. Cinta yang dewasa”. Saat
itu aku mengerti bahwa sebuah hubungan adalah tentang pemahaman bukan tentang
persoalan menaruh kesalahan. Bukan tentang siapa yang jahat. Karena jika mau
mencari “penjahat” orang yang salah, maka itu adalah takdir. Takdir yang
membawa kita kepada skenario hidup yang seperti ini. Dan penulis skenario itu
adalah Allah. Bagaimana kita membenci Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia?
Yang Maha Tahu? Dan tentu kita pernah mendengar ini Jodo, Pati, Bagja, Cilaka, Kagungan Nu Kawasa. Yang harus aku
lakukan adalah menerimanya dengan dewasa. Meski aku bukan pemeran utama aku
punya pilihan untuk tidak terluka dan mengucapkan selamat tinggal dengan rela.
Apa yang mau
dipersalahkan atas perasaanmu dan perasaannya? Dia pun bukan tersangka yang
harus dijatuhi hukuman karena telah mencurimu. Terlebih dia bukan mencurimu
dariku. Dia telah memintamu dari Pemilik yang sebenarnya. Tak ada yang merebut,
tak ada yang harus dibenci. Hanya saja episode kisah antara aku dan kamu telah
berakhir. Aku hanya harus menerima dan memerankan peranku dengan baik sebagai second lead hingga akhir. Meski aku
adalah second lead dalam ceritamu
tapi aku akan menjadi pemeran utama di ceritaku selanjutnya, bersama tokoh yang
lain.
Kamu adalah pemahaman
yang terbaik. Meski tidak pernah ada cerita tertulis atas nama kita. Terima
kasih. Menemukanmu, dan seandainya.
Ya....
Ini aku wanita penyuka drama korea, wanita penyuka menulis, penyuka puisi,
penyuka tarian, penyuka segalanya. Dan aku sudah tidak lagi menunggunya. Jadi
mari kita saling tersenyum kembali tanpa ada rasa canggung. Seperti dulu. :)
-Gie
Kamis, 03 Maret 2016
Takut
Takut
t-a-k-u-t
te
a
ka
u
te
te a ta
ka u ku
t
ta-ku-t
ta-kut
takut
take out
Ada Allah bersamamu
Rasa
Rasa
Untuk sebuah rasa yang tak tersampaikan
Untuk semua pernyataan yang serba ambigu
Dan waktu yang terus berjalan
Menunggu dan bertahan
Atau....
Berpendar dan kemudian tergantikan
Diantara batas sepi dan lelah
Rasa berdiri risau
Mondar-mandir dalam kebisuan
Bersembunyi diantara kebisingan
Rasa sendiri,
Menghitung waktu menanti jawaban
Rasa berharap jawabannya adalah rasa
Serang, 30 Oktober 2012
Gie
Seandainya, Sekali Lagi
Seandainya, Sekali Lagi
Hening yang berkerak
Dalam diam yang masih bersajak
Mendamba bayangan
Menjebakku dalam kenangan
Senjaku memudar
Tertatih-tatih kuwarnai jingganya agar tetap berpijar
Hanya saja senja memilih berganti
Menyisakan jingga yang pucat pasi
Dan semua takkan sama lagi
Seperti yang kusadari
Seandainya masih bisa terulang
Sekali lagi
Seandainya....
Sekali lagi
27 Agustus 2014
Gie
Rabu, 02 Maret 2016
Warna Pendidikan Kita
Warna Pendidikan Kita
Karya: Agie Nurwati
Ada harapan yang terhampar
Namun harus hilang
Ada mimpi yang tergantung tinggi
Namun harus mati
Ketika harapan hanya milik orang-orang pinggiran
Ketika mimpi bisa diperjualbelikan
"Pendidikan adalah hak setiap warga negara" katanya
Tapi nyatanya, tidak!
Masih banyak anak-anak menghitung receh di lampu merah
Masih banyak siswa-siswa keluar karena tak bisa bayar uang sekolah
Masih banyak mahasiswa DO meninggalkan bangku kuliah
Pendidikan menjadi barang mewah di negeri kita
Yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja
Miris....
Ketika pendidikan hanya menjadi ajang mencari ijazah
Bukan lagi mencari ilmu untuk memperbaiki tatanan hidup bangsa kita
Kita adalah mimpi-mimpi yang berlari dalam abstraksi
Yang dijejali dogma-dogma kurikulum modernisasi
Tanpa melihat kesetaraan, yang ada hanya kesenjangan
Bukan lagi sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa
Tapi untuk mencari keuntungan semata
Bukankah setiap anak adalah penerus bangsa ini?
Lantas....
Bagaimana dengan harapan dan mimpi mereka
Jika pendidikan hanya menjadi bingkai yang sulit dijamah
Akankah kalimat "Nama Saya Budi"
Kembali mudah untuk dieja?
Berdengung dari pelosok negeri, tanpa terkecuali
***Cipta karya puisi TCA Purwakarta dengan tema "Kapitalisme Pendidikan"***
Langganan:
Postingan (Atom)
