Sabtu, 09 November 2013

Surat Untuk Cinta



31 oktober 2012
Untuk kamu yang masih menjadi rahasia

Sedang apa kamu, sosok yang begitu aku nantikan?
Kapan waktu merasa lelah dan mempertemukan kita? Aku tak sabar untuk berbagi cerita bersamamu. Berbagi keluh kesah, sedih, canda juga bahagia. Merasakan hangatnya genggaman tanganmu yang menutupi jemari-jemari mungilku. Melewatkan waktu dengan berjalan kaki berdua, dan melakukan hal gila bersama-sama.
            Aku bosan menunggu. Aku mulai merasa lelah dan kesepian. Aku ingin jatuh cinta lagi, dan itu kepada kamu. Aku tidak ingin yang lain, hanya kamu. Aku terlihat bodoh, merindukanmu yang bahkan aku tak tahu bentuk dan rupanya. Bahkan sangat bodoh karena menulis sepucuk surat yang entah dialamatkan kepada siapa. Yang ku tahu, itu kamu.
            Kamu tidak perlu datang dengan sosok sempurna, aku hanya butuh seorang pria. Tidak perlu kamu memujaku laksana ratu, aku hanya butuh kamu sebagai sahabat, kekasih, sekaligus kakak. Kita saling memberi kekuatan dan tempat saat kita terluka.
            Tidak peduli sekaku apa kamu dihadapanku, tapi kamu selalu tahu kapan kamu harus meminjamkan dadamu untuk menyembunyikan air mataku. Kamu, yang selalu menyentuh lembut kepalaku, namun sering kali mengacak-ngacak rambut hitamku. Kamu, sosok yang aku butuhkan, bukan sekedar seseorang yang aku inginkan. Betapa aku ingin melepas rasa lelah dengan bersandar dibahumu. Melengkapi paragraph kosong di alur ceritamu.
Sayang… cepatlah datang ! aku merasa sendiri dan kesepian.


Dari wanitamu,
Yang diam-diam merindukan
Kehadiranmu

Gie

Sabtu, 31 Agustus 2013

Satu Nama, Ribuan Cerita.

Aku tidak tahu bagaimana orang-orang mengingatku sekarang dan mengenangku nanti. Tapi aku berharap aku adalah bagian dari kisah mereka, seperti mereka yang telah menjadi bagian-bagian dari kisahku. Mereka yang mempunyai makna. Mereka yang telah memberi warna. Mereka yang membuatku banyak belajar.

Terima kasih dan maaf yang teramat banyak untuk kalian. 
Tempat aku, selalu pulang, keluarga. Terima kasih untuk selalu menjadi pelindung si bungsu yang menyebalkan. Selalu berusaha memberikan yang terbaik. Aku ingin mengatakan satu hal untuk bapak, "Terima kasih, aku sudah besar sekarang, bukan gadis kecil lagi. Maaf, belum bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan. Tetaplah sehat !"
Sahabat-sahabatku. Maaf, karena sering mengecewakan dan kadang sedikit keras. Terima kasih selalu menjadi pendengar yang baik, dan penghibur yang menyenangkan. Terima kasih karena selalu ada, untuk saling menjaga mimpi kita masing-masing, saling memberi kekuatan, dan kepercayaan, bahwa kita pantas untuk bahagia dengan cara kita.
Orang-orang yang pernah datang dan kemudian pergi. Terima kasih telah mengajarkan aku apa arti mencintai, bagaimana rasa dicintai, pengorbanan, melepaskan, terluka, bertahan, diabaikan, dan memaafkan.
Aku belajar arti ketulusan dari mereka.
Seseorang yang tulus akan selalu ada di samping kita, meski kita meninggalkannya, meski kadang mengacuhkannya, bahkan membuatnya terluka. Dia selalu berusaha memaafkan, mengerti dan tak pernah menyalahkan. 
 
Aku telah berubah, dari Agie yang kemarin. Tanpa kalian sadari aku telah berbeda. Aku harap kalian bisa melihat Agie Nurwati yang sekarang. Menerimaku sebagai Agie Nurwati yang hari ini ada di hadapan kalian. Yang merahasiakan banyak cerita.
 
Kalian adalah orang-orang hebat. Aku menyayangi kalian. Karena kalian, aku ada.
 
 
 
My August
Di Ujung tanggal 31, awal ke-21


Agie Nurwati



Kamis, 22 Agustus 2013

Dia Benar-Benar Ada Di Hatiku, Tuhan......

Memang, tidak semua yang kita inginkan berjalan sesuai harapan. Namun, semuanya telah terjadi, telah berjalan, telah berlalu, dan mungkin tidak akan bisa kembali. 
Kadang merasa ingin marah, tapi marah untuk apa ? Marah pada siapa ?
Aku fikir, ini tentang sebuah keberanian. Keberanian untuk menerima kenyataan.
Nyatanya,  kini maknaku telah hilang.
Nyatanya, aku tak boleh berharap banyak.
Karena ketika aku berharap banyak, akupun akan terluka banyak.
Aku terluka oleh keputusanku sendiri. Ketika aku mengatakan aku yang akan pergi. Ketika itu aku tak pernah benar-benar ingin pergi. Aku hanya menggertak, seperti anak kecil manja yang ingin dipedulikan Ayahnya. Dan ketika itu aku berharap dia kehilanganku, dia akan mencariku. Bahwa semuanya akan berakhir baik-baik saja. Tapi ternyata, mungkin aku tak cukup alasan untuk dipertahankan, untuk diperjuangkan. Dan ribuan penyesalanpun tak akan berarti apa-apa sekarang. 
Ketika aku memutuskan melakukannya, aku telah membuat pilihan dan aku harus siap dengan kemungkinan terburuknya.
Aku tak harus menunggunya lagi. Tak seharusnya. Tapi, bahkan aku masih saja menikmati bayangannya, bayangannya yang semakin samar kulihat.
Mungkin, aku terlalu percaya. Bahwa dia benar-benar ingin bersamaku. Bahwa dia tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya. Bahwa dia tidak akan meninggalkanku sendirian.
Mungkin, aku terlalu berharap. Berharap aku dan dia bisa mengejar mimpi kita bersama-sama dan mencapai mimpi kita masing-masing. Berharap suatu hari nanti, setiap pagi orang yang pertama kali aku lihat ketika bangun tidur adalah dia.
Ya, dia. Orang yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta setiap kali bertemu dengannya. Orang yang telah memporak porandakan perasaanku tanpa permisi.
Hingga pada akhirnya, aku hanya dapat mengamatinya lewat jarak, memperhatikannya sibuk berbincang dengan orang-orang disekelilingnya, mendengar suaranya, tanpa melihat wajahnya atau matanya. Dan dengan begitu saja aku merasa cukup. Aku bahagia. :)

Special Song. Please listen....
Adele-Don't You Remember
 
 

Selasa, 30 Juli 2013

Catatan Di Penghujung Bulan

"Teringat kuteringat, pada janjimu kuterikat. Hanya sekejap kuberdiri, kulakukan sepenuh hati." -Letto Sandaran Hati


Semuanya akan kusimpan rapi, entah sampai kapan. Sampai waktu benar-benar lelah, sampai aku benar-benar tak mampu lagi. Dan selama itu, aku akan menjadi seorang penggemar. Sekarang, kamu hanya seseorang yang bisa kuperhatikan punggungnya dari balik jendela, dari kejauhan. Apa aku terlihat sangat menyedihkan? 

Akan sangat sulit memulai lagi dari nol, beradaptasi lagi dengan orang baru, mencoba mengenal lebih dalam, memahaminya, masuk ke dunianya dan menjadikannya bagian dari duniaku. Membangun lagi "kita" dan mimpi-mimpi tentang masa depan. Itu bukan hal mudah yang harus dilalui.

Tapi inilah hidup. Hidup berjalan terus tanpa kita tahu muaranya, yang bisa kita lakukan hanya melakukan yang terbaik. Menjalaninya dengan bahagia, sesakit atau sesulit apapun. Berserah, pasrah dan bersyukur. Percaya, bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik.

Aku harus lebih kuat lagi sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu, aku selalu ada. Semua tentangmu yang akan sangat aku rindukan. Kenangan yang masih akan kubuka lembar demi lembar. Meski kini, aku tak akan pernah bisa menyentuhmu lagi, tak bisa lagi menenangkanmu, menjadi pendengarmu, mengusap-usap kepalamu sampai kamu tertidur. Tak akan lagi.
Tapi, aku masih bisa memperbincangkanmu dengan Tuhan, mendekapmu dalam do'a-do'a. Aku tak akan membebanimu dengan perasaanku. Jatuh cinta dan mencintaimu dalam diam, mungkin itu sudah dari cukup.

Maaf...... Aku (masih) mencintaimu.
Namun, nampaknya sekarang kamu telah bahagia dengan perahu yang kau nahkodai. 
Selamat bahagia :)



31 Juli 2013


Gie

Senin, 08 Juli 2013

Senin, 8 Juli 2013, 00.45

"Aku. Pijar yg kini meredup, warna yg kian memudar."

Puzzle itu mungkin tak akan pernah lengkap, tak akan pernah tersusun sempurna. Lalu apakah kini menjadi percuma yang bersisa?
Mungkin tidak.
Karena biarkan aku yang simpan meski itu tak terselesaikan. Biarkan menjadi bagian-bagian yang akan aku sembunyikan sendirian.
Semuanya hanya tentang waktu bukan ? Yang selalu kita sebut dalam setiap perbincangan. Bahkan mungkin, ketika suatu saat, cepat atau lambat aku harus melihat kamu berjalan dengan seseorang pengganti yang kamu temukan. Dan aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Karena aku tak akan semudah itu.
Karena aku mungkin akan "takut" untuk menerima sosok lain.
Ketika lelah telah membatu, dan keajaiban hanya menjadi khayalan kita berdua, barangkali ini jawabannya.
Aku kembali menjadi beku yang berjalan untuk diriku sendiri. Berlari dengan arah gontai dengan memasangkan senyum dan gelak tawa yang tersusun rapi.
Tuhan, apa selama ini aku terlalu memaksa ingin menciptakan keajaiban? Karena sebenarnya tak akan ada keajaiban dan seharusnya aku tak masuk lebih dalam dan mundur lebih awal.

Rabu, 27 Maret 2013

Catatan Terakhir Untuk Kisah Yang Telah Berakhir

Pada akhirnya kisah ini harus berhenti. Kita 'terpaksa' harus saling melepaskan, bukan karena apa-apa, hanya memang ini sebuah pilihan.
Mungkin ini akan sangat sulit untuk aku berjalan diantara kenangan-kenangan yang berlarian. Harus kembali terbiasa seperti dulu, tanpanya lagi.
Satu hal yang pasti, aku tidak pernah menyesali apapun saat bersamanya, karena aku yang telah memilihnya.
Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua yang tidak bisa dideskripsikan menjadi tulisan. Semuanya yang akan masih tersimpan rapi disini, sampai aku benar-benar tak 'mampu' lagi.
Tuhan... Jika boleh meminta, seandainya saja waktu bisa diputar kembali, pertemukan aku lagi dengannya, sebelum dia mengenalnya.

Minggu, 17 Maret 2013

Kamu Adalah yang Pertama

"Sampai kapan? | Sampai aku tak mampu lagi."



Aneh.. Ketika senja masih bisa memancarkan warnanya di antara rintik gerimis yang jatuh satu per satu. Meski tak ada pelangi di langitku, tapi senja dan gerimis menjadi satu paket keindahan yang tidak bisa tergantikan.
Sore itu saat aku merasa kesepian, bahkan dalam sepiku aku mampu.
Aku ingin kamu juga merasakan bagaimana indahnya menikmati senja dan gerimis dalam satu waktu. Saat orang-orang justru sedang menikmati pelangi di langitnya. Aku ingin kamu menikmati senja dan gerimis seperti yang ada di langitku, karena di langitku tak terlihat pelangi, yang seharusnya bergurat indah ketika hujan berhenti.
Ternyata, meski kita berada pada langit yang sama belum tentu kita menikmati hal yang serupa. Langit di tempatmu, mungkin tak akan sama dengan langit yang kulihat di tempatku.
Lantas.. Sore itu apa yang kamu nikmati di langitmu? Di langit yang kamu lihat. Langit di tempatmu.
Atau bahkan kamu tak melihat dan menikmati apapun?

Kamu adalah yang pertama. Rindu yang menggetarkanku hingga sesak. Sakit yang membuatku terisak.
Kamu adalah yang pertama. Abstrak yang begitu ingin kukongkritkan. Samar yang ingin aku perjelas.
Kamu adalah yang pertama. Menggenggam tanganku dengan begitu hangat. Membawaku dalam ikatan penuh impian.
Seseorang yang membuatku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Kamu.

Meski kadang merasa.... Mencintai kamu mengapa harus selelah ini. Dan entah mengapa selelah apapun menghadapi kamu dan hubungan ini, aku selalu punya alasan untuk bertahan.
Selalu berusaha mengenal kamu lebih dari siapapun. Meski harus mendengar pandangan orang-orang tentang kamu. Dan harus lebih menguatkan hati, untuk mempercayai kamu. Yaaa.. Aku selalu berusaha 'percaya' padamu. Meski kadang lemah, karena kamu sendiri yang membuat goyah.
Meski kadang merasa.... Mengapa mencintaimu harus sesakit ini. Sebuah rasa sakit yang kadang muncul, karena pengabaianmu. Entah, aku yang terlalu berlebihan atau memang kamu yang tak peka terhadap perasaan seseorang. Namun lagi-lagi aku selalu punya alasan untuk bertahan. Aku selalu berusaha mencoba mengerti. Berusaha berfikir jika berada di posisi kamu.
Kamu. Apa kamupun seberusaha itu untuk mengenalku? Mengenal duniaku?

Kamu adalah yang pertama. Seseorang yang membuatku merasa bahwa aku juga pantas bahagia. Pantas dicintai, oleh kamu. Meski mungkin kaupun sama lelahnya seperti aku untuk pandangan orang-orang tentangku.
Maaf, karena aku tidak bisa jadi yang sempurna untukmu.
Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi saat kamu bertanya "sampai kapan aku
akan mencintaimu" aku hanya bisa menjawab "sampai aku tak mampu lagi mencintaimu".



-Unk kamu, yang kadang seperti kapas dan seperti beling. Tetap disini, disisiku. Sampai kita berdua benar-benar tak mampu lagi. :) -

Rabu, 30 Januari 2013

Tentang Rasa, Tentang Sebuah Pengakuan

"Dia hanya orang asing, ketika kami berdua bertemu." 

Semuanya terjadi begitu saja, tanpa rencana dan apa adanya. Ada banyak hal yang tidak bisa dikendalikan manusia. Salah satunya, perasaan. Kita bahkan tidak pernah bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa, bukan? Sebagaimana aku kepadamu.

Kamu tau hal apa yang paling aku takuti? Jatuh cinta. Aku lelah harus merasakan jatuh cinta berulang kali, membangunnya, dan ditinggalkan pada akhirnya. Menyakitkan meski itu mendewasakan.

Aku takut, aku takut jatuh cinta. Terutama kepada kamu. Aku takut menyalahartikan setiap kata dan sikap yang kau tujukan padaku. Aku takut berharap. Karena semakin aku berharap, semakin dalam sakit yang aku dapat. Aku hanya mencoba menikmatinya sendirian, mengagumimu dalam diam. Aku sadar kita terlalu "berbeda" dan buatku kamu terlalu sempurna. Kamu tahu bagaimana sesaknya? Karena aku harus menganggapnya biasa.

Tapi, tanpa diduga kamu datang mengulurkan tangan. Sulit dipercaya memang. Kamu datang dengan mimpi, angan dan cinta. Entah kekuatan apa, atas dasar apa, aku membalas uluran tanganmu, melangkahi batas-batas ketakutanku, buat kamu. Aku hanya berusaha mempercayai cinta yang kamu bawa, dan meyakini apa yang aku rasa. Kamu membuat aku merasa menjadi wanita yang pantas untuk dicintai. Meski berat menepis ragu yang membelenggu, sampai hari ini. Rasanya sangat sulit menciptakan dunia kita. Seperti yang pernah kamu katakan "sekarang bukan cuma tentang kamu saja, atau aku saja, tapi tentang kita." Kamu tahu bagaimana sulitnya memaknai kata "kita"? Karena kadang, kita terlihat samar-samar. Entah tertutup jarak, entah tertutup ego. Terlalu banyak ketakutan yang aku rasakan. Aku takut, tidak bisa menjadi kekuatan buat kamu. Aku takut, malah aku yang justru menyakitimu, mengecewakanmu, oleh keegoisanku, cara pandangku, keterbatasanku dalam memahami dan mengerti kamu. Bagaimana aku menjelaskannya? Apalagi yang harus aku tulis? Aku begini adanya, apa kamu bisa terima? Aku tidak bisa banyak bicara, aku tidak seperti yang lain, tapi aku ingin kamu bisa merasakannya. Aku ingin kamu percaya, meski tidak sering aku mengatakannya, mengungkapkannya. Aku sayang kamu. Dan akupun akan selalu berusaha untuk mempercayaimu, setidaknya mempercayai kalimat yang kamu katakan, "Semuanya Alloh yang ngatur. Selalu percaya kalau kita niatnya baik, pasti akan baik juga untuk selanjutnya".


Akhir di bulan Januari
30 Januari 2013
Di batas Rindu, dan keteguhan hati



Agie Nurwati