Dia
mengatakan, dia ingin menjadi langit. Dan aku
jawab, “Baiklah, jadilah langit. Dan aku akan menjadi senja. Senja yang
memberikan warna pada langit. Senja yang beberapa saat bersama langit, kemudian
menghilang.”
Aku pernah
merasakannya, bahwa perasaan adalah sesuatu yang mengalir apa adanya. Saat itu,
pernah terasa menyenangkan. Saat kita masih bertanya “apa itu cinta?” dengan
begitu polosnya, dan mencoba “memahami” dengan cara yang dewasa. Namun mungkin
kita terlalu berbeda. Aku yang tidak mudah memvisualisasikan perasaan, dan kamu
-seperti bagaimana lelaki yang lainnya- seseorang yang suka berpetualang dan
tantangan, seseorang yang masih mencari. Pada akhirnya aku melewatkanmu, dan
kita berjalan di jalan kita masing-masing.
Sebenarnya aku tidak
pernah yakin, akan pernyataanmu yang serba ambigu kala itu. Selama ini tak
nampak ada yang berbeda dari sikapmu, meski saat itu kudengar ada kegugupan di
nada bicaramu. Meski katamu kita tak bisa bersama karena suatu keadaan. Suatu
keadaan yang sangat aku pahami, pencapaianmu. Satu-satunya kesalahanmu adalah
tidak mengatakan “jangan menungguku”.
Hari itu aku menangis. Sadar
bahwa aku bukanlah lagi pemeran utama di cerita kehidupanmu. Atau mungkin lebih
tepatnya tidak pernah. Aku sempat membencimu, membencinya yang membuatmu
memunggungiku.
“Mungkin setiap kisah
harus ada yang terluka”, kataku kepada seorang sahabat. Kemudian sahabatku itu mengatakan,
“Akan ada dimana sebuah kisah yang tak melukai siapapun. Cinta yang dewasa”. Saat
itu aku mengerti bahwa sebuah hubungan adalah tentang pemahaman bukan tentang
persoalan menaruh kesalahan. Bukan tentang siapa yang jahat. Karena jika mau
mencari “penjahat” orang yang salah, maka itu adalah takdir. Takdir yang
membawa kita kepada skenario hidup yang seperti ini. Dan penulis skenario itu
adalah Allah. Bagaimana kita membenci Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia?
Yang Maha Tahu? Dan tentu kita pernah mendengar ini Jodo, Pati, Bagja, Cilaka, Kagungan Nu Kawasa. Yang harus aku
lakukan adalah menerimanya dengan dewasa. Meski aku bukan pemeran utama aku
punya pilihan untuk tidak terluka dan mengucapkan selamat tinggal dengan rela.
Apa yang mau
dipersalahkan atas perasaanmu dan perasaannya? Dia pun bukan tersangka yang
harus dijatuhi hukuman karena telah mencurimu. Terlebih dia bukan mencurimu
dariku. Dia telah memintamu dari Pemilik yang sebenarnya. Tak ada yang merebut,
tak ada yang harus dibenci. Hanya saja episode kisah antara aku dan kamu telah
berakhir. Aku hanya harus menerima dan memerankan peranku dengan baik sebagai second lead hingga akhir. Meski aku
adalah second lead dalam ceritamu
tapi aku akan menjadi pemeran utama di ceritaku selanjutnya, bersama tokoh yang
lain.
Kamu adalah pemahaman
yang terbaik. Meski tidak pernah ada cerita tertulis atas nama kita. Terima
kasih. Menemukanmu, dan seandainya.
Ya....
Ini aku wanita penyuka drama korea, wanita penyuka menulis, penyuka puisi,
penyuka tarian, penyuka segalanya. Dan aku sudah tidak lagi menunggunya. Jadi
mari kita saling tersenyum kembali tanpa ada rasa canggung. Seperti dulu. :)
-Gie
