Selasa, 23 Juni 2015

Darah Ksatria



Namaku adalah Purnama, putri dari Raja Bima. Raja dari kerajaan Anggrek Bulan. Seorang Raja yang terkenal baik hati, bijaksana, dan bisa membuat makmur negerinya. Dia bukan hanya Raja yang baik untuk rakyatnya tapi juga seorang Ayah yang hebat bagiku.
Suatu hari, negeri kami tiba-tiba di serang oleh pasukan berkuda. Mereka menyerang kerajaan kami dan memporak porandakan negeri kami.
“Apa yang terjadi Ayah?”, tanyaku pada Ayah yang tengah gelisah di singgasananya. Tapi Ayah hanya diam membisu.
“Mereka akhirnya datang” desisnya.
“Siapa mereka? kenapa mereka menyerang kerajaan kita Ayah? Apa yang pernah Ayah lakukan hingga mereka harus perang melawan kita?” tanyaku beruntun.
“Kau harus pergi dari sini putriku, setidaknya kau harus hidup”, tatapnya sembari membelai lembut rambut panjangku.
“Tidak! aku akan tetap disini bersama Ayah apapun yang terjadi”, tegasku.
Tiba-tiba datang komandan perang menghampiri kami. “Yang Mulia Raja, semua sudah siap kita harus pergi dari sini”, katanya dengan penuh hormat.
“Bagaimana dengan rakyatku?”
“Negeri kita sudah hancur Yang Mulia, kita harus menyelamatkan diri. Ini juga yang jadi keinginan rakyat Yang Mulia. Mereka ingin Rajanya selamat”.
“Aku tak bisa membiarkan kerajaanku jatuh ke tangan mereka!”
“Kita tak punya banyak waktu Raja. Satu-satunya jalan, kita melarikan diri dari sini dengan pasukan  dan rakyat kita yang masih ada, kemudian kita kumpulkan kekuatan untuk merebut kerajaan ini kembali”.
Lama Ayah termenung, “Baiklah.. Kau benar. Mari kita lakukan! Dimana sisa pasukan dan rakyat kita?” katanya kemudian.
“Mereka menunggu di pintu utara Yang Mulia.”
Kami bertiga dan beberapa pengawal menyelinap pergi menuju pintu utara. Sang komandan memimpin di depan. Namun tiba-tiba ia berbalik dan menebaskan pedangnya ke para pengawal.
“Maaf, mulai sekarang aku bukan bagian dari kalian”, katanya dengan senyum sinis.
“Pengkhianat!!” teriak Ayahku penuh amarah.
Merekapun bertarung dan kemudian sebuah pedang berhasil tertancap tepat di dada Ayahku.
“Lari nak, lari…..” lirihnya penuh rasa sakit. Aku hanya bisa diam terpaku menyaksikan ayahku sendiri terkapar bersimbah darah. Sang komandan menuju ke arahku,
“Kaupun harus mati!” katanya. Dia hampir menusukkan pedangnya ke dadaku hingga seekor naga datang dan menyelamatkanku. Naga itu membawaku pergi ke sebuah tempat yang sangat asing, sebuah gua yang berada di atas tebing.
Naga itu menyerahkanku kepada seorang pemuda berbadan tinggi tegap. Pemuda itu langsung bersimpuh di hadapanku dan berkata, “Hormatku untuk Yang Mulia Putri Purnama”.
“Siapa kamu?” selidikku.
“Tenang aku bukan pengkhianat. Putri memang tak mengenalku, tapi Yang Mulia Raja mengenalku dengan baik. Inilah alasanku menyelamatkamu putri, tapi sepertinya aku terlambat menyelamatkan Yang Mulia Raja”, ucapnya dengan nada sedih. Kemudian dia mengeluarkan sebuah belati, belati yang hanya ada dua di dunia ini. Pertama milik ayahku dan yang kedua milikku.
“Bukankah kau memilikinya juga? Yang Mulia Raja memberikan ini padaku. Dia bilang dia mempercayaiku untuk memiliki ini setelah putrinya. Oh ya, namaku Elang. Ketika kecil, Yang Mulia Raja pernah menyelamatkaku dengan mempertaruhkan nyawanya. Oleh karena itu aku berjanji untuk setia dan menyerahkan hidupku untuk mengabdi padanya”.
“Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu? Kau akan membunuhku bukan? Kau bagian dari mereka!” seketika tangisku menyeruak.
Dia menyentuh pundakku dengan ragu, “Kau boleh mempercayainya atau tidak, tapi seperti itulah kenyataannya.” Dia kemudian mengelus naganya, “Namanya Rambo, temanku sejak kecil. Hadiah dari ayahmu. Sebenarnya Yang Mulia Raja sudah curiga sejak dulu akan terjadi kudeta seperti hari ini. Oleh karena itu diam-diam dia membangun kekuatan dengan mengumpulkan dan melatih pasukan lain, dan mempercayakannya padaku. Dia sudah tahu hari ini akan terjadi, pemberontakan dan pengkhianat akan menyerang”.
Dia menceritakan semuanya padaku. Entah kenapa aku merasa memiliki kekuatan baru, kekuatan untuk merebut kembali kerajaan dan menghukum pengkhianat-pengkhianat yang memporak porandakan negeriku dan membunuh ayahku. Aku bertekad untuk masuk ke dalam pasukan perang, dan menjalani pelatihan sebagaimana mestinya seorang prajurit.
Elang, melihatnya, aku merasa melihat cerminan ayahku. Tatapan matanya yang tajam, Sikap dia yang dingin namun sebenarnya memiliki hati yang hangat. Diam-diam aku menaruh perasaan padanya, seperti pencuri, aku selalu mencuri pandang padanya. Tapi dia hanya menganggapku sebagai seorang Tuan Putri yang harus dia lindungi, tidak kurang dan tidak lebih.
            Brruuukk… Tiba-tiba ada suara benda jatuh dari langit. “Rambo!” teriak Elang. Rambo tergeletak tak berdaya, dia sekarat dengan tancapan panah di sekujur tubuhnya. Untuk pertama kalinya aku melihat Elang menangis, kehilangan teman terbaiknya.
“Kapan kita menyerang?” tanyaku dengan mantap. Elang hanya menatapku dalam, dia mencari sebuah keyakinan. “Kita rebut kembali kerajaan, ini perintah!” kataku meyakinkan. Elang pun hanya mengangguk.
            Sejak malam kami dan seluruh pasukan sudah mempersiapkan semuanya. Sebuah penyerangan tiba-tiba, untuk merebut yang seharusnya milik kami.
“Aku akan melindungimu putri, aku akan selalu berada di depan untuk melindungimu”, ucapnya dengan senyum simpul di wajahnya.
“Terima kasih selalu menjagaku, memberiku kekuatan”.
“Purnama, di bawah bulan purnama”, lirihnya sembari menatap langit, kemudian menoleh ke arahku. Bola mata kami bertemu, tiba-tiba suasana menjadi hening, dan terasa canggung.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku tiba-tiba.
“Tentu”, jawabnya.
“Seandainya aku bukanlah seorang putri, apa kau akan menyukaiku?”, lanjutku. Aku bisa merasakan kekagetan pada wajahnya, “Hahahahaha…. Lupakan saja”, kataku mencairkan suasana. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, dan ketika akan melangkah tiba-tiba dia menahan tanganku dan bisa ku rasakan dadanya yang hangat menyentuh punggungku.
“Seandainya aku terlahir kembali nanti, aku berharap kita bertemu sebagai orang biasa”, bisiknya kemudian melepaskan pelukannya dan pergi.
            Semua pasukan telah siap berperang. Aku memimpin pasukan. Dan dalam hitungan tiga kami menyerang pemberontak dan penkhianat-pengkhianat yang telah merebut kerajaan dan menyiksa rakyatku. Satu persatu pasukan kami tumbang, harus diakui pasukan mereka sangat kuat. Aku tetap menebaskan pedangku dengan membabi buta, Aku harus merebut tahta ayahku kembali dan satu-satunya cara adalah dengan melumpuhkan raja yang sekarang, yang dulu adalah komandan perang yang telah membunuh ayahku.
“Kau begitu berani, datang mengantar maut Tuan Putri”, katanya mengejek.
Kau harus membayar untuk apa yang telah kau lakukan untukku, ayahku, dan rakyatku!”, kataku. Aku pun menyerang dan kami berduapun bertarung. Tubuhku sudah lemah, basah oleh  keringat bercampur darah.
“Kau hanya seorang wanita Tuan Putri, hahaha….”, tawanya. 
Aku merasa tidak sanggup lagi untuk melawannya, dia terlalu kuat. Aku hanya bisa meringis kesakitan. Dia tendang jauh pedang yang tergeletak di depanku. Tanpa banyak bicara dia angkat pedangnya untuk ditancapkan padaku, namun seseorang menolongku.
“E..laa..ng..” lirihku.
“Bodoh! kenapa kau meninggalkan pasukan dan berjuang sendirian?”, katanya menahan amarah melihat keadaanku. Dia melawan dengan berani, meskipun dia telah banyak terluka, meski dengan darah yang mengalir. Dia kehilangan pedangnya dan berada diambang maut. Entah mendapatkan kekuatan darimana aku berlari kearah raja jahat dan menusukkan belatiku di pungungnya. Dia sempoyongan dan berbalik mengarah padaku, dengan geram dia menebaskan pedangnya padaku, namun seseorang menghadang tepat di depanku, aku bisa melihat pedang menembus perutnya dengan darah yang mengalir. Dia tersenyum padaku dan menyentuh lembut pipiku, kemudian berbalik dan menembuskan belati tepat di jantung si raja jahat. Raja pemberontak dan pengkhianat-pengkhianat itupun roboh bersimbah darah. Elang pun tergeletak tak berdaya, dengan susah payah kami meraih tangan kami masing-masing.
“Aku sudah bilang akan melindungimu putri”, lirihnya dengan susah payah.
Aku hanya bisa menangis, kurasakan tangannya menjadi dingin, dan kulihat tubuhnya tak lagi bergerak. Ksatriaku tiada.

“Tuhan….. Di masa yang akan datang, biarkan aku menikmati hidup dengan orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku”.

Langit Senja di Jakarta



Ini tentang aku dan dia
Tentang persahabatan
Tentang mimpi
Dan tentang rasa yang tersembunyi

-Senja-
            Bersamamu waktu terasa berjalan begitu cepat. Saat bersama, kita saling berbagi pikiran tentang banyak hal, tentang musik, sastra, seni, bahkan olahraga, hal yang tak kusukai. Kamu selalu mengatakan akan menjadi pelukis terkenal. Kamu akan membuat pameran lukisanmu sendiri di berbagai negara, bukan sekedar pameran biasa, tapi pameran lukisan yang mempunyai nilai seni tinggi, yang mempunyai nyawa di setiap coretan kuasnya. Tak mau kalah, akupun mengatakan bahwa aku akan menjadi penulis ternama, yang karya-karyanya selalu membekas di hati para pembacanya dan menjadi inspirasi banyak orang. Kita merangkai dan mengukir mimpi kita masing-masing, kamu di atas kanvas dan aku di atas kertas.
            Diam-diam aku mulai memperhatikanmu. Menikmati setiap detik waktu kebersamaan kita. Aku suka tatapan tajam matamu ketika kamu sedang fokus pada objek photografimu. Aku suka mendengar suaramu, ketika kamu bernyanyi dengan gitar usang kesayanganmu. Aku suka wajah seriusmu, ketika jemarimu menari-nari di atas kanvas. Aku suka ketika kamu mengacak-ngacak rambutku. Aku sadar, ada sesuatu yang mulai berubah, sesuatu yang sulit di kendalikan, yaitu perasaan. Dan aku hanya bisa mencintaimu dalam diam.
“Gue udah punya pacar!” katamu suatu hari dengan wajah berseri-seri. Seketika tanganku yang sedang mengetik menjadi kaku, untuk beberapa saat waktu terasa terhenti. “Ohhh… Selamat! siapa lagi korban lo?” kataku setelah aku bisa menguasai diriku sendiri dengan pandangan tetap lurus ke layar laptop. Kamu memutar tubuhku hingga wajah kita berhadapan. “Dia kuliah di kampus yang sama bareng lo, jurusan akuntansi. Namanya Adinda, dia cantik, putih, anggun, pokoknya dia cewek yang sempurna”, jawabmu dengan wajah serius, di akhiri dengan senyuman. Selalu kamu lakukan itu, hal yang paling aku benci. Senyuman yang bisa melelehkan hati wanita manapun.
            Kamu tampak lebih bahagia sekarang. Mungkin kamu telah menemukan duniamu, bersama Adinda. Semakin hari kamu semakin rajin datang ke kampusku, tentu saja untuk menemui Adinda. Aku merasa, kita semakin jauh. Bahkan untuk menyapamu ketika berpas-pasan saja rasanya sulit. Kita semakin berjarak, tidakkah kau merasakannya?
            Aku mencari-cari sosokmu. Semalam, lewat telepon kamu berjanji akan menemaniku mendengar hasil lomba menulis cerpen di kampusku. Berkali-kali aku mencoba menghubungimu namun tak ada jawaban. Hingga hasil lomba diumumkan, sosok yang kutunggu tak kunjung datang. Aku sangat kecewa. Entah sebagai apa, entah sebagai sahabat atau sebagai seorang wanita.
            Dari jauh, aku melihatmu berlari terburu-buru ke arahku, namun seseorang menghentikan langkahmu. Ya, Adinda. Kamu sempat melihat ke arahku, memasang wajah menyesal meminta maaf. Dan aku, hanya bisa melihat punggungmu semakin menjauh. Aku lupa ada dia.
            “Gue cuma mau bilang, gue berhasil jadi juara pertama. Gue menang, gue semakin yakin kalau mimpi gue semakin deket. Gue bahagia banget, dan gue pengen berbagi kebahagiaan sama lo, Langit!!!” kataku lirih menahan tangis, menatap piala pertama kemenanganku. Tapi rasanya, ini tak berarti lagi buatku sekarang.
---------- 
-Langit-
            Entah kenapa, aku menjadi merasa kesepian. Aku merasa ada yang telah hilang, aku merasa sendirian. Entah sudah berapa lama aku duduk diam menatap kanvas yang masih tetap kosong.
            “Aku bosan, sampai kapan kamu akan terus menatap kanvas yang ada di hadapanmu? sudah satu jam, dan kamu bahkan belum membuat satu garispun?” suara seseorang mengagetkanku. Aku menoleh dan tersenyum, “Dinda, aku butuh waktu untuk melukis, aku sedang mencari inspirasi”, kataku penuh kesabaran. Seperti biasa, Adinda hanya akan mengeluh, merengek jika dia kusuruh menemaniku melukis. Bahkan sekarang, rasanya aku tidak bisa menikmati lagi saat-saat aku melukis, hal yang paling aku sukai, hal yang telah menjadi hidup matiku, impianku. Beda ketika aku bersama Senja. Ah, Senja, sahabatku yang satu itu, kemana dia? Aku merindukannya.
            Aku dan Senja berteman sejak SMA. Aku masih ingat pertama kali mengenalnya. Gadis biasa-biasa saja yang terlihat pendiam dengan senyum malu-malu, namun ternyata setelah mengenalnya dia merupakan sosok yang mengejutkan, dia ceria dan berisik. Gadis pemimpi. Seorang yang menyukai seni dan jatuh cinta pada sastra, baginya “art is my soul”. Gadis yang unik, namun kadang jadi terlihat abstrak karena keunikannya. Namun, justru karena itu aku menyukainya, karena itu aku dan dia menjadi teman dekat. Dia merupakan pendengar yang baik, partner diskusi yang menyenangkan, dan seseorang yang rela menemaniku melakukan hal-hal yang aku sukai, seperti melukis, memotret, selama berjam-jam tanpa protes. Setelah kami lulus, dia memilih melanjutkan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, bidang yang sangat diminatinya, dan aku memutuskan untuk rehat sejenak dan masih memilih-milih jurusan yang aku inginkan. Meskipun begitu, kami masih sering menghabiskan waktu bersama.
       Sebenarnya, aku merasa bersalah padanya, aku telah malanggar janji untuk menemaninya mendengarkan hasil lomba menulis cerpen di kampusnya. Meskipun itu bukan lomba pertama yang dia ikuti, namun kudengar dia berhasil menjadi juaranya. Dan itu merupakan kemenangan pertama untuknya. 
----------
            Sore itu, Jakarta diguyur hujan. Seorang laki-laki berlari terburu-buru untuk menghindari air hujan. Dia nampak membawa dua gelas kopi panas di tangannya.
“Caramel macchiato kesukaan lo sebagai tanda permintaan maaf tulus dari gue”, katanya menyodorkan segelas kopi sembari tersenyum manis dengan tampang memelas kepada seorang wanita. Namun, wanita itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, dia hanya menatap lurus ke arah hujan turun.
“Oke, gue salah, gue minta maaf, gue........” belum sempat laki-laki itu menyelesaikan ucapannya, wanita itu dengan cepat memotongnya dengan berkata, “gue tahu lo punya alasan, alasan yang lebih penting dan mendesak, Adinda. Iyakan? Gue gak marah, gue cuma sedikit kecewa”, kemudian wanita itu mengeluarkan beberapa tisu dan mengelapkan ke wajah dan tangan laki-laki itu. “Tapi seenggaknya lo telepon gue, atau misalnya lo gak sempet buat telepon gue, lo angkat telepon dari gue, kasih tahu kalo lo gak bisa dateng, biar gue gak perlu nungguin...” lanjutnya sembari terus mengelapi laki-laki yang basah karena terkena hujan itu. Laki-laki itu hanya diam, menatap wanita tersebut.
            Ternyata sejak tadi ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka, dia sudah lama berada disana menyaksikan apa yang terjadi. Dia adalah Adinda. 
----------
“Langit, lusa temen-temen SMA mau pada ngumpul, temu kangen kata mereka. Lo nanti jemput gue ya?” kata Senja dengan ceria lewat telepon.
“Duh... lusa gue udah ada janji, kayaknya gue gak bisa”, jawab Langit dengan nada penuh penyesalan.
“Janji sama Adinda? Lo bisa ajak pasangan kok, yang lain juga pada bawa pasangan mereka masing-masing. Yang penting lo dateng, lo kan udah jarang ngumpul sama anak-anak, mereka bilang ada yang kurang kalo lo gak ada” bujuk Senja, berharap Langit merubah keputusannya.
“Gue nggak bisa, sorry banget, lusa gue mau travelling sama anak-anak komunitas photograpy ke Baduy. Biasa kita mau motret keindahan alam dan kebudayaan disana. Lo tahu kan ini kesempatan yang bagus buat gue buat nambah pengalaman. Bahkan lo pengen banget kan bisa mengunjungi Baduy, lo bilang kalo Baduy itu tempat yang ngebuat lo penasaran dengan tradisi dan kebudayaannya”, ucap Langit panjang lebar.
Suara Senja kemudian berubah, tidak ada lagi nada ceria disana, dia menjawab dengan lemah, “Gue ngerti, bye...” kemudian Senja mengakhiri percakapannya dengan Langit.
Di lain tempat, Langit merasa menyesal telah mengecewakan Senja untuk kesekian kalinya. Tidak berselang lama Senja menutup teleponnya, Langit mengirimkan pesan kepada Senja.

To: Senja

Maaf ya, gue gak bisa dateng lagi. Tolong, sampein permintaan maaf gue ke anak-anak yang lain. Gue tahu lo pasti bisa ngerti alesan gue kan, karena lo sahabat terbaik gue. ;)

Adinda yang mengenalkan Langit dengan komunitas photograpy. Langit mengatakan bahwa dia merasa telah menemukan rumah baru. Tempat di mana dia bisa berekspresi dan sharing dengan orang-orang hebat dan menginspirasi yang ada di dalam komunitas tersebut. Sejak saat itu, Senja semakin merasa jauh dari Langit. Senja mengerti mengapa Langit tak sesering dulu menghabiskan waktu bersamanya, karena sekarang sudah ada Adinda. Bagaimanapun Senja harus bisa memahami dimana posisinya. Akan tetapi, semakin waktu berlalu Senja merasa Langit mulai berubah. Bukan hanya jarang menghabiskan waktu bersama seperti dulu, bahkan mereka sudah jarang berkomunikasi satu sama lain. Bukan Senja tidak pernah terlebih dahulu memulai untuk menghubunginya, hanya saja setiap Senja meneleponnya, Langit tidak sempat untuk mengangkat teleponnya dan kemudian hanya mengirim pesan bahwa tadi dia sedang sibuk sedang ini atau sedang itu, bersama Adinda atau komunitas photograpynya lalu meminta maaf, dan pesan itu akan berakhir dengan Senja yang menunggu balasan dari Langit.
Senja pun tak bisa serta merta menghakimi perubahan Langit. Karena mungkin, bagi Langit justru dia berubah menjadi lebih baik, dan yang terpenting untuk Senja adalah bagaimanapun itu, Langit terlihat bahagia dengan semuanya, itu saja cukup.  
----------
Adinda duduk di samping Senja yang tengah tertidur di perpustakaan, dan berkata, “Kamu tahu Langit akan melanjutkan study ke Perancis? Dia mau ngambil jurusan arsitek. Minggu depan dia sudah harus berangkat”.
Senja langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya, “Langit?” tanyanya dengan wajah terkejut.
“Dari ekspresimu sepertinya kamu belum tahu”, lanjut Adinda. Senja langsung bergegas membereskan buku dan alat tulisnya kemudian pergi meninggalkan Adinda dengan mata yang mulai memerah.
Senja menemui Langit di rumahnya, saat itu Langit tengah duduk santai di belakang rumahnya sambil mendengarkan musik. “Selamat Langit, gue berharap study lo lancar di sana”, kata Senja tiba-tiba sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Langit.
Langit nampak terkejut, dia melepas earphone dari telinganya kemudian membalas jabatan tangan Senja. “Iya, Senja, terima kasih” ucap Langit gelagapan.
Air matapun tumpah dari mata Senja, air mata yang sejak tadi ia tahan agar tidak keluar, “Tapi kenapa lo gak ngasih tahu gue? Kenapa gue harus tahu dari orang lain? Lo tahu, gue bahagia banget lo udah bisa mutusin mau lanjutin study kemana, gue bahagia sahabat gue akhirnya udah nemuin jalannya. Gue bangga sahabat gue bisa kuliah ke luar negeri”, isaknya.
Langit berusaha menenangkan Senja, dia berkata dengan tenang, “gue cuma gak tahu gimana caranya gue ngasih tau semuanya ke lo, karena gue tahu lo bakal jadi orang yang paling bahagia dan terus menerus ngasih semangat ke gue meskipun pada saat yang sama lo ngerasa sedih karena gue bakal pergi jauh, tapi lo gak akan sedikitpun menunjukkan rasa khawatir, lo akan terus ngasih kekuatan dan tersenyum sama gue. Senja, sebenernya gue takut, gue takut gak akan mampu...”
Senja memegang tangan Langit, memandang matanya dan berkata, “sejak kapan lo jadi pengecut? Mana Langit yang gue kenal karena mimpi besarnya? Lo tahu, kadang kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan. Lo cuma perlu percaya sama impian lo, sama diri lo sendiri, dan semua orang yang ngedukung lo”.
“Senja, seandainya lo nyuruh gue tinggal, gue mungkin gak akan pergi”, ucap Langit dalam hati.
Hari itupun tiba, hari kepergian Langit ke Perancis. “Buka ini, kalo udah duduk di pesawat”, bisik Senja sambil tersenyum menyerahkan sebuah amplop merah muda. Orang tua Langit memeluk anak tunggal mereka sebagai salam perpisahan, dan Adinda terus menerus menangis melepas kepergian Langit. “Jangan nangis terus, aku bakal jaga diri baik-baik di sana, kamu juga harus jaga diri baik-baik selama aku nggak ada di sini. Aku akan kembali”, kata Langit menghibur Adinda. Langit pun check in pesawat. Setelah naik pesawat dan mendapatkan tempat duduknya, dia membuka amplop merah muda yang di berikan Senja. Langit tersenyum. Amplop itu berisikan sebuah photo, photo pertama yang mereka ambil saat masih kelas satu SMA, dan sepucuk surat yang bertuliskan:

Selamat ulang tahun ke-19, Langit. Always be happy. Gue tahu, gue ngucapin lebih cepat 10 hari dari seharusnya. Cuma gue ngerasa harus ngucapin sekarang juga, biar terlihat SO SWEET (lo kan tahu sendiri gue orangnya sok puitis sama sok romantis :D) dan hanya dengan cara ini gue bisa jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun sama lo. Hahahaha..... Nanti, lo pasti sibuk sama kegiatan lo di sana, bakalan susah buat komunikasi, gue takut kalo gue ngucapinnya nanti, nggak akan di baca sama lo. Dan gue bakal segan untuk sering-sering menghubungi lo, gue takut ganggu study lo (gue mah gitu orangnya, gak enakan :D).
Gue berharap suatu saat nanti kita ketemu lagi, lo masih Langit yang sama, Langit yang gue kenal. Gak berubah, masih sama kayak Langit yang ada di photo ini. Sampai bertemu lagi di Indonesia, Langit. Sukses untuk kita berdua.

-Senja-      
           
            Sementara itu, di dalam taxi, Senja sudah tidak dapat menahan air matanya lagi. Dia pun akhirnya menangis.    
----------
Dua tahun berlalu. Sejak saat itu, sejak kepergian Langit, Senja terus menunggu Langit, dia selalu menunggu Langit kembali. Namun dia sadar, ada seseorang yang juga menunggu Langit, yaitu Adinda. Meskipun begitu, dia berharap, dia menjadi salah satu orang yang ingin Langit temui saat Langit kembali.
Akan tetapi, sepertinya Senja keliru. Langit memang kembali, namun bukan untuknya. Senja mendapatkan kabar Langit akan pulang ke Indonesia selama beberapa hari dari Ayahnya Langit. Beberapa bulan kepergian Langit ke Perancis, mereka masih saling menyapa meski hanya lewat percakapan singkat. Namun setelah itu, mereka kehilangan komunikasi sama sekali.  
Sudah dua hari Langit berada di Indonesia. Lusa, Langit harus sudah kembali ke Perancis. Akan tetapi, Langit belum juga menghubungi Senja, begitupun Senja yang tidak tahu bagaimana harus menghubungi Langit. Senja pun mendatangi rumah Langit. Namun, ternyata Langit belum pulang ke rumah. “Langit belum pulang, neng... Ayah sama Ibu juga belum sempat quality time sama Langit. Dia kalau pulang malam, pas kita mau tidur, pagi kita bangun, dia masih tidur, kalau dia bangun kita udah berangkat ke kantor, kita pulang dari kantor dia pergi”, curahan hati Ayah Langit. Senja hanya tersenyum kemudian pamit pulang.    
Besoknya di kampus, Senja melihat Langit bersama Adinda. Mereka pun saling berpas-pasan. Langit tersenyum, kemudian mereka saling berjabatan tangan. Langit terlihat sangat canggung dan Senja merasakan jarak antara mereka. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka. “Ayo Langit, yang lain sudah menunggu kita”, kata Adinda tiba-tiba. Langit pun pamit untuk pergi.
“Setiap orang berubah, dan kemudian mulai memilih dimensi yang tidak mengikutsertakan kita lagi di dalamnya. Atau aku yang tidak mengikuti perubahan?” ucap Senja dalam hati menatap Langit yang semakin menjauh. Pertemuannya dengan Langit saat itu, benar-benar membuat Senja merasa terluka. Ternyata hanya segitu saja arti persahabatan mereka bagi Langit.
Senja sedang membaca mading ketika Adinda menghampirinya. “Hai Senja....”, sapa Adinda.
“Eh, Adinda... Hai juga Din”, jawab Senja. “Aku duluan yah”, kata Senja kemudian.
“Senja, aku tahu kamu menyukai Langit. Bukan sekedar menyukai sebagai sahabat, tapi perasaan suka seorang wanita kepada seorang laki-laki”, kata-kata Adinda menghentikan langkah kaki Senja. “Aku tidak bodoh, Senja. Sudah sejak lama aku mengetahuinya. Tapi kamu harus tahu, sekarang dia adalah milikku, takkan kubiarkan seorang pun merebutnya. Sebut saja aku egois, tapi aku harus melewati waktu yang panjang untuk memperjuangkan hubungan kami sampai bisa ke tahap ini. Kami bahkan telah berkomitmen. Berhentilah menunggunya, itu hanya akan membuatmu terluka. Langit sudah menyadari perasaanmu padanya. Dia sempat goyah, tapi akhirnya dia sadar, dia hanya menganggapmu sebagai teman. Sebagai bagian dari masa remajanya, seperti teman-temannya yang lain. Dia hanya melihatmu sebagai episode kehidupannya. Bagimu dunianya adalah duniamu, tapi duniamu bukanlah dunianya”, lanjut Adinda dengan nada meninggi.
Senja berbalik dan tersenyum, “Bagaimana bisa kamu mengatakan seseorang adalah milikmu, padahal dia adalah milik Tuhan-Nya? Maaf, jika perasaan ini salah. Hanya saja, bukankah setiap orang mempunyai hak untuk menyukai siapapun? Seperti halnya kamu menyukai dia. Bahkan ketika dia memilih untuk menyukaimu. Perasaan kalian itu urusan kalian, dan perasaanku milik diriku sendiri. Aku tidak pernah meminta dia untuk membalasnya. Aku tidak pernah ingin perasaanku membebaninya. Oleh karena itu sampai saat ini, aku tidak pernah mengatakannya. Karena aku tahu, aku cukup tahu diri” kata Senja dengan mata berkaca-kaca, kemudian dia pergi meninggalkan Adinda seorang diri.
            Tiba-tiba dada Senja terasa begitu sesak, tanpa sadar dia mulai menitikkan air mata. “Aku tidak pernah ingin memilikimu Langit, seberapapun aku menyukaimu. Aku suka kata kita sebagai sahabat, bagaimana mungkin aku meminta lebih dari itu? Tapi, perasaan ini aku sendiri tidak bisa mengendalikannya. Kalau saja aku bisa menahannya, mungkin takkan sesakit ini. Begitu takutnya aku kehilanganmu sehingga aku tidak pernah mengatakannya. Karena aku tahu, akan ada yang berubah, akan ada jarak antara kita. Dan sekarang, aku benar-benar kehilanganmu. Begitu tidak berartikah kebersamaan kita selama ini? Aku kira, terlepas bagaimanapun perasaanku padamu, kamu akan cukup dewasa menyikapinya, bahwa tidak akan pernah ada yang berubah, kita tetaplah sahabat. Tidakkah kamu berubah terlalu banyak, Langit?” pikir Senja. Senja terisak, dia merasa sakit hati, bukan karena cinta bertepuk sebelah tangannya kepada Langit, tapi karena dia telah ditinggalkan sahabatnya.

Aku mencintaimu karena Allah
dan kutitipkan semua perasaanku pada-Nya
semoga kita dipertemukan dalam takdir Allah yang sebaik-baiknya.
Sebagaimana kisah Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf,
makin jauh Yusuf darinya
namun, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah
Allah datangkan Yusuf untuknya.
Meski, entah siapa yang menjadi Yusufku.
entah seperti apa rupanya,
Aku percaya,
dia adalah seseorang yang Allah hadirkan untuk melengkapiku
membimbingku menuju surga-Nya.

-Senja-     

----------


 Gerimis membasahi kota Jakarta sore itu. Seorang wanita berusia 26 tahunan, mengenakan hijab biru dongker duduk seorang diri di salah satu sudut cafe. Ia nampak sedang menikmati gerimis dari balik jendela, ditemani secangkir caramel macchiato panas yang ia pesan.

“Melodi Senja Pertiwi? Boleh saya minta tanda tangannya, saya penggemar karya-karya tulisan Anda”, sapa seorang laki-laki tiba-tiba. Dia memberikan buku dengan judul Gerimis di Awal Tahun. Buku tersebut merupakan salah satu karya Senja. Ya, Senja kini telah menjadi seorang penulis. Dia menjadi salah satu penulis muda yang mulai diperhitungkan karya-karyanya.
Senja mengambil buku itu untuk ia tanda tangani. “Siapa nama Anda?” tanya Senja pada laki-laki itu.
“Nama saya Rama...”, jawabnya.
Senja terdiam sejenak, dia merasa tak asing dengan suara laki-laki itu. Senja mengangkat kepalanya.
“Langit Birama”, lanjut laki-laki tersebut sambil tersenyum.
“Langit.....”, lirih Senja.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka bertemu. Meskipun begitu, tak banyak yang mereka katakan, hanya saling menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing.
“Kamu sekarang terlihat berbeda Senja”, ucap Langit memecah keheningan. “Sedang apa kamu sendirian disini?” lanjutnya kemudian.
“Sedang menunggu seseorang yang mau diajak ngopi bareng sambil ngobrol yang lama sampai lupa waktu”, jawab Senja sekenanya.
Langit tersenyum mendengar jawaban Senja, “ternyata kamu masih sama seperti dulu”, katanya.
“Aku masih Senja yang dulu. Tak ada yang berubah, yang berubah hanya tampilan luarku saja. Tapi aku masih tetap Senja yang sama, gadis yang kamu temui beberapa tahun yang lalu. Yaaa... mungkin dengan sikap dan pemikiran yang lebih matang. Bagaimana kabar Adinda, Langit?”
“Dinda, dia baik-baik saja”.
Lama mereka terdiam. “Apa yang membawamu pulang, Langit? Kudengar, kamu kebanjiran project di sana setelah kamu lulus”, tanya Senja memulai percakapan.
“Aku hanya ingin pulang”, jawab Langit.
“Untuk sementara, atau seterusnya?”
“Untuk seterusnya”
“Untuk sebuah alasan?”
“Ya, untuk sebuah alasan. Mempersunting wanitaku”, senyum Langit.

-----TAMAT-----