Sabtu, 31 Agustus 2013

Satu Nama, Ribuan Cerita.

Aku tidak tahu bagaimana orang-orang mengingatku sekarang dan mengenangku nanti. Tapi aku berharap aku adalah bagian dari kisah mereka, seperti mereka yang telah menjadi bagian-bagian dari kisahku. Mereka yang mempunyai makna. Mereka yang telah memberi warna. Mereka yang membuatku banyak belajar.

Terima kasih dan maaf yang teramat banyak untuk kalian. 
Tempat aku, selalu pulang, keluarga. Terima kasih untuk selalu menjadi pelindung si bungsu yang menyebalkan. Selalu berusaha memberikan yang terbaik. Aku ingin mengatakan satu hal untuk bapak, "Terima kasih, aku sudah besar sekarang, bukan gadis kecil lagi. Maaf, belum bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan. Tetaplah sehat !"
Sahabat-sahabatku. Maaf, karena sering mengecewakan dan kadang sedikit keras. Terima kasih selalu menjadi pendengar yang baik, dan penghibur yang menyenangkan. Terima kasih karena selalu ada, untuk saling menjaga mimpi kita masing-masing, saling memberi kekuatan, dan kepercayaan, bahwa kita pantas untuk bahagia dengan cara kita.
Orang-orang yang pernah datang dan kemudian pergi. Terima kasih telah mengajarkan aku apa arti mencintai, bagaimana rasa dicintai, pengorbanan, melepaskan, terluka, bertahan, diabaikan, dan memaafkan.
Aku belajar arti ketulusan dari mereka.
Seseorang yang tulus akan selalu ada di samping kita, meski kita meninggalkannya, meski kadang mengacuhkannya, bahkan membuatnya terluka. Dia selalu berusaha memaafkan, mengerti dan tak pernah menyalahkan. 
 
Aku telah berubah, dari Agie yang kemarin. Tanpa kalian sadari aku telah berbeda. Aku harap kalian bisa melihat Agie Nurwati yang sekarang. Menerimaku sebagai Agie Nurwati yang hari ini ada di hadapan kalian. Yang merahasiakan banyak cerita.
 
Kalian adalah orang-orang hebat. Aku menyayangi kalian. Karena kalian, aku ada.
 
 
 
My August
Di Ujung tanggal 31, awal ke-21


Agie Nurwati



Kamis, 22 Agustus 2013

Dia Benar-Benar Ada Di Hatiku, Tuhan......

Memang, tidak semua yang kita inginkan berjalan sesuai harapan. Namun, semuanya telah terjadi, telah berjalan, telah berlalu, dan mungkin tidak akan bisa kembali. 
Kadang merasa ingin marah, tapi marah untuk apa ? Marah pada siapa ?
Aku fikir, ini tentang sebuah keberanian. Keberanian untuk menerima kenyataan.
Nyatanya,  kini maknaku telah hilang.
Nyatanya, aku tak boleh berharap banyak.
Karena ketika aku berharap banyak, akupun akan terluka banyak.
Aku terluka oleh keputusanku sendiri. Ketika aku mengatakan aku yang akan pergi. Ketika itu aku tak pernah benar-benar ingin pergi. Aku hanya menggertak, seperti anak kecil manja yang ingin dipedulikan Ayahnya. Dan ketika itu aku berharap dia kehilanganku, dia akan mencariku. Bahwa semuanya akan berakhir baik-baik saja. Tapi ternyata, mungkin aku tak cukup alasan untuk dipertahankan, untuk diperjuangkan. Dan ribuan penyesalanpun tak akan berarti apa-apa sekarang. 
Ketika aku memutuskan melakukannya, aku telah membuat pilihan dan aku harus siap dengan kemungkinan terburuknya.
Aku tak harus menunggunya lagi. Tak seharusnya. Tapi, bahkan aku masih saja menikmati bayangannya, bayangannya yang semakin samar kulihat.
Mungkin, aku terlalu percaya. Bahwa dia benar-benar ingin bersamaku. Bahwa dia tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya. Bahwa dia tidak akan meninggalkanku sendirian.
Mungkin, aku terlalu berharap. Berharap aku dan dia bisa mengejar mimpi kita bersama-sama dan mencapai mimpi kita masing-masing. Berharap suatu hari nanti, setiap pagi orang yang pertama kali aku lihat ketika bangun tidur adalah dia.
Ya, dia. Orang yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta setiap kali bertemu dengannya. Orang yang telah memporak porandakan perasaanku tanpa permisi.
Hingga pada akhirnya, aku hanya dapat mengamatinya lewat jarak, memperhatikannya sibuk berbincang dengan orang-orang disekelilingnya, mendengar suaranya, tanpa melihat wajahnya atau matanya. Dan dengan begitu saja aku merasa cukup. Aku bahagia. :)

Special Song. Please listen....
Adele-Don't You Remember