Rabu, 27 Maret 2013

Catatan Terakhir Untuk Kisah Yang Telah Berakhir

Pada akhirnya kisah ini harus berhenti. Kita 'terpaksa' harus saling melepaskan, bukan karena apa-apa, hanya memang ini sebuah pilihan.
Mungkin ini akan sangat sulit untuk aku berjalan diantara kenangan-kenangan yang berlarian. Harus kembali terbiasa seperti dulu, tanpanya lagi.
Satu hal yang pasti, aku tidak pernah menyesali apapun saat bersamanya, karena aku yang telah memilihnya.
Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua yang tidak bisa dideskripsikan menjadi tulisan. Semuanya yang akan masih tersimpan rapi disini, sampai aku benar-benar tak 'mampu' lagi.
Tuhan... Jika boleh meminta, seandainya saja waktu bisa diputar kembali, pertemukan aku lagi dengannya, sebelum dia mengenalnya.

Minggu, 17 Maret 2013

Kamu Adalah yang Pertama

"Sampai kapan? | Sampai aku tak mampu lagi."



Aneh.. Ketika senja masih bisa memancarkan warnanya di antara rintik gerimis yang jatuh satu per satu. Meski tak ada pelangi di langitku, tapi senja dan gerimis menjadi satu paket keindahan yang tidak bisa tergantikan.
Sore itu saat aku merasa kesepian, bahkan dalam sepiku aku mampu.
Aku ingin kamu juga merasakan bagaimana indahnya menikmati senja dan gerimis dalam satu waktu. Saat orang-orang justru sedang menikmati pelangi di langitnya. Aku ingin kamu menikmati senja dan gerimis seperti yang ada di langitku, karena di langitku tak terlihat pelangi, yang seharusnya bergurat indah ketika hujan berhenti.
Ternyata, meski kita berada pada langit yang sama belum tentu kita menikmati hal yang serupa. Langit di tempatmu, mungkin tak akan sama dengan langit yang kulihat di tempatku.
Lantas.. Sore itu apa yang kamu nikmati di langitmu? Di langit yang kamu lihat. Langit di tempatmu.
Atau bahkan kamu tak melihat dan menikmati apapun?

Kamu adalah yang pertama. Rindu yang menggetarkanku hingga sesak. Sakit yang membuatku terisak.
Kamu adalah yang pertama. Abstrak yang begitu ingin kukongkritkan. Samar yang ingin aku perjelas.
Kamu adalah yang pertama. Menggenggam tanganku dengan begitu hangat. Membawaku dalam ikatan penuh impian.
Seseorang yang membuatku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Kamu.

Meski kadang merasa.... Mencintai kamu mengapa harus selelah ini. Dan entah mengapa selelah apapun menghadapi kamu dan hubungan ini, aku selalu punya alasan untuk bertahan.
Selalu berusaha mengenal kamu lebih dari siapapun. Meski harus mendengar pandangan orang-orang tentang kamu. Dan harus lebih menguatkan hati, untuk mempercayai kamu. Yaaa.. Aku selalu berusaha 'percaya' padamu. Meski kadang lemah, karena kamu sendiri yang membuat goyah.
Meski kadang merasa.... Mengapa mencintaimu harus sesakit ini. Sebuah rasa sakit yang kadang muncul, karena pengabaianmu. Entah, aku yang terlalu berlebihan atau memang kamu yang tak peka terhadap perasaan seseorang. Namun lagi-lagi aku selalu punya alasan untuk bertahan. Aku selalu berusaha mencoba mengerti. Berusaha berfikir jika berada di posisi kamu.
Kamu. Apa kamupun seberusaha itu untuk mengenalku? Mengenal duniaku?

Kamu adalah yang pertama. Seseorang yang membuatku merasa bahwa aku juga pantas bahagia. Pantas dicintai, oleh kamu. Meski mungkin kaupun sama lelahnya seperti aku untuk pandangan orang-orang tentangku.
Maaf, karena aku tidak bisa jadi yang sempurna untukmu.
Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi saat kamu bertanya "sampai kapan aku
akan mencintaimu" aku hanya bisa menjawab "sampai aku tak mampu lagi mencintaimu".



-Unk kamu, yang kadang seperti kapas dan seperti beling. Tetap disini, disisiku. Sampai kita berdua benar-benar tak mampu lagi. :) -