Kamis, 05 Mei 2016

Lika-Liku Luka



Dia mengatakan, dia ingin menjadi langit. Dan aku  jawab, “Baiklah, jadilah langit. Dan aku akan menjadi senja. Senja yang memberikan warna pada langit. Senja yang beberapa saat bersama langit, kemudian menghilang.”


Aku pernah merasakannya, bahwa perasaan adalah sesuatu yang mengalir apa adanya. Saat itu, pernah terasa menyenangkan. Saat kita masih bertanya “apa itu cinta?” dengan begitu polosnya, dan mencoba “memahami” dengan cara yang dewasa. Namun mungkin kita terlalu berbeda. Aku yang tidak mudah memvisualisasikan perasaan, dan kamu -seperti bagaimana lelaki yang lainnya- seseorang yang suka berpetualang dan tantangan, seseorang yang masih mencari. Pada akhirnya aku melewatkanmu, dan kita berjalan di jalan kita masing-masing.

Sebenarnya aku tidak pernah yakin, akan pernyataanmu yang serba ambigu kala itu. Selama ini tak nampak ada yang berbeda dari sikapmu, meski saat itu kudengar ada kegugupan di nada bicaramu. Meski katamu kita tak bisa bersama karena suatu keadaan. Suatu keadaan yang sangat aku pahami, pencapaianmu. Satu-satunya kesalahanmu adalah tidak mengatakan “jangan menungguku”.

Hari itu aku menangis. Sadar bahwa aku bukanlah lagi pemeran utama di cerita kehidupanmu. Atau mungkin lebih tepatnya tidak pernah. Aku sempat membencimu, membencinya yang membuatmu memunggungiku.

“Mungkin setiap kisah harus ada yang terluka”, kataku kepada seorang sahabat. Kemudian sahabatku itu mengatakan, “Akan ada dimana sebuah kisah yang tak melukai siapapun. Cinta yang dewasa”. Saat itu aku mengerti bahwa sebuah hubungan adalah tentang pemahaman bukan tentang persoalan menaruh kesalahan. Bukan tentang siapa yang jahat. Karena jika mau mencari “penjahat” orang yang salah, maka itu adalah takdir. Takdir yang membawa kita kepada skenario hidup yang seperti ini. Dan penulis skenario itu adalah Allah. Bagaimana kita membenci Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia? Yang Maha Tahu? Dan tentu kita pernah mendengar ini Jodo, Pati, Bagja, Cilaka, Kagungan Nu Kawasa. Yang harus aku lakukan adalah menerimanya dengan dewasa. Meski aku bukan pemeran utama aku punya pilihan untuk tidak terluka dan mengucapkan selamat tinggal dengan rela.

Apa yang mau dipersalahkan atas perasaanmu dan perasaannya? Dia pun bukan tersangka yang harus dijatuhi hukuman karena telah mencurimu. Terlebih dia bukan mencurimu dariku. Dia telah memintamu dari Pemilik yang sebenarnya. Tak ada yang merebut, tak ada yang harus dibenci. Hanya saja episode kisah antara aku dan kamu telah berakhir. Aku hanya harus menerima dan memerankan peranku dengan baik sebagai second lead hingga akhir. Meski aku adalah second lead dalam ceritamu tapi aku akan menjadi pemeran utama di ceritaku selanjutnya, bersama tokoh yang lain. 

Kamu adalah pemahaman yang terbaik. Meski tidak pernah ada cerita tertulis atas nama kita. Terima kasih. Menemukanmu, dan seandainya.




Ya.... Ini aku wanita penyuka drama korea, wanita penyuka menulis, penyuka puisi, penyuka tarian, penyuka segalanya. Dan aku sudah tidak lagi menunggunya. Jadi mari kita saling tersenyum kembali tanpa ada rasa canggung. Seperti dulu. :) 
-Gie           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar