Namaku adalah
Purnama, putri dari Raja Bima. Raja dari kerajaan Anggrek Bulan. Seorang Raja
yang terkenal baik hati, bijaksana, dan bisa membuat makmur negerinya. Dia
bukan hanya Raja yang baik untuk rakyatnya tapi juga seorang Ayah yang hebat
bagiku.
Suatu hari,
negeri kami tiba-tiba di serang oleh pasukan berkuda. Mereka menyerang kerajaan
kami dan memporak porandakan negeri kami.
“Apa yang
terjadi Ayah?”,
tanyaku pada Ayah yang tengah gelisah di singgasananya. Tapi Ayah hanya diam
membisu.
“Mereka akhirnya
datang” desisnya.
“Siapa mereka?
kenapa mereka menyerang kerajaan kita Ayah? Apa yang pernah Ayah lakukan hingga
mereka harus perang melawan kita?” tanyaku beruntun.
“Kau harus pergi
dari sini putriku, setidaknya kau harus hidup”,
tatapnya sembari
membelai lembut rambut panjangku.
“Tidak! aku akan
tetap disini bersama Ayah apapun yang terjadi”,
tegasku.
Tiba-tiba datang
komandan perang menghampiri kami. “Yang Mulia Raja, semua sudah siap kita harus
pergi dari sini”,
katanya dengan penuh
hormat.
“Bagaimana
dengan rakyatku?”
“Negeri kita
sudah hancur Yang Mulia, kita harus menyelamatkan diri. Ini juga yang jadi
keinginan rakyat Yang Mulia. Mereka ingin Rajanya selamat”.
“Aku tak bisa
membiarkan kerajaanku jatuh ke tangan mereka!”
“Kita tak punya
banyak waktu Raja. Satu-satunya jalan, kita melarikan diri dari sini dengan
pasukan dan rakyat kita yang masih ada,
kemudian kita kumpulkan kekuatan untuk merebut kerajaan ini kembali”.
Lama Ayah
termenung, “Baiklah.. Kau benar. Mari kita lakukan! Dimana sisa pasukan dan
rakyat kita?” katanya kemudian.
“Mereka menunggu
di pintu utara Yang Mulia.”
Kami bertiga dan
beberapa pengawal menyelinap pergi menuju pintu utara. Sang komandan memimpin
di depan. Namun tiba-tiba ia berbalik dan menebaskan pedangnya ke para pengawal.
“Maaf, mulai
sekarang aku bukan bagian dari kalian”,
katanya dengan senyum
sinis.
“Pengkhianat!!”
teriak Ayahku penuh amarah.
Merekapun
bertarung dan kemudian sebuah pedang berhasil tertancap tepat di dada Ayahku.
“Lari nak,
lari…..” lirihnya penuh rasa sakit. Aku hanya bisa diam terpaku menyaksikan ayahku
sendiri terkapar bersimbah darah. Sang komandan menuju ke arahku,
“Kaupun harus
mati!” katanya. Dia hampir
menusukkan pedangnya ke dadaku hingga seekor naga datang dan menyelamatkanku.
Naga itu membawaku pergi ke sebuah tempat yang sangat asing, sebuah gua yang berada
di atas tebing.
Naga itu
menyerahkanku kepada seorang pemuda berbadan tinggi tegap. Pemuda itu langsung
bersimpuh di hadapanku dan berkata, “Hormatku untuk Yang Mulia Putri Purnama”.
“Siapa kamu?”
selidikku.
“Tenang aku
bukan pengkhianat. Putri memang tak mengenalku, tapi Yang Mulia Raja mengenalku
dengan baik. Inilah alasanku menyelamatkamu putri, tapi sepertinya aku terlambat
menyelamatkan Yang Mulia Raja”,
ucapnya dengan nada
sedih. Kemudian dia mengeluarkan sebuah belati, belati yang hanya ada dua di
dunia ini. Pertama milik ayahku dan yang kedua milikku.
“Bukankah kau
memilikinya juga? Yang Mulia Raja memberikan ini padaku. Dia bilang dia
mempercayaiku untuk memiliki ini setelah putrinya. Oh ya, namaku Elang. Ketika
kecil, Yang Mulia Raja pernah menyelamatkaku dengan mempertaruhkan nyawanya.
Oleh karena itu aku berjanji untuk setia dan menyerahkan hidupku untuk mengabdi
padanya”.
“Bagaimana
mungkin aku bisa mempercayaimu? Kau akan membunuhku bukan? Kau bagian dari
mereka!” seketika tangisku menyeruak.
Dia menyentuh
pundakku dengan ragu, “Kau boleh mempercayainya atau tidak, tapi seperti itulah
kenyataannya.” Dia kemudian mengelus naganya, “Namanya Rambo, temanku sejak
kecil. Hadiah dari ayahmu. Sebenarnya Yang Mulia Raja sudah curiga sejak dulu
akan terjadi kudeta seperti hari ini. Oleh karena itu diam-diam dia membangun
kekuatan dengan mengumpulkan dan melatih pasukan lain, dan mempercayakannya
padaku. Dia sudah tahu hari ini akan terjadi, pemberontakan dan pengkhianat
akan menyerang”.
Dia menceritakan
semuanya padaku. Entah kenapa aku merasa memiliki kekuatan baru, kekuatan untuk
merebut kembali kerajaan dan menghukum pengkhianat-pengkhianat yang memporak porandakan
negeriku dan membunuh ayahku. Aku bertekad untuk masuk ke dalam pasukan perang,
dan menjalani pelatihan sebagaimana mestinya seorang prajurit.
Elang,
melihatnya, aku merasa melihat cerminan ayahku. Tatapan matanya yang tajam, Sikap
dia yang dingin namun sebenarnya memiliki hati yang hangat. Diam-diam aku
menaruh perasaan padanya, seperti pencuri, aku selalu mencuri pandang padanya. Tapi
dia hanya menganggapku sebagai seorang Tuan Putri yang harus dia lindungi,
tidak kurang dan tidak lebih.
Brruuukk…
Tiba-tiba ada suara benda jatuh dari langit. “Rambo!” teriak Elang. Rambo
tergeletak tak berdaya, dia sekarat dengan tancapan panah di sekujur tubuhnya.
Untuk pertama kalinya aku melihat Elang menangis, kehilangan teman terbaiknya.
“Kapan kita
menyerang?” tanyaku dengan mantap. Elang hanya menatapku dalam, dia mencari
sebuah keyakinan. “Kita rebut kembali kerajaan, ini perintah!” kataku
meyakinkan. Elang pun hanya mengangguk.
Sejak
malam kami dan seluruh pasukan sudah mempersiapkan semuanya. Sebuah penyerangan
tiba-tiba, untuk merebut yang seharusnya milik kami.
“Aku akan
melindungimu putri, aku akan selalu berada di depan untuk melindungimu”, ucapnya dengan senyum
simpul di wajahnya.
“Terima kasih
selalu menjagaku, memberiku kekuatan”.
“Purnama, di
bawah bulan purnama”,
lirihnya sembari menatap
langit, kemudian menoleh ke arahku. Bola mata kami bertemu, tiba-tiba suasana
menjadi hening, dan terasa canggung.
“Apa aku boleh
bertanya sesuatu?” tanyaku tiba-tiba.
“Tentu”, jawabnya.
“Seandainya aku
bukanlah seorang putri, apa kau akan menyukaiku?”, lanjutku. Aku bisa merasakan kekagetan pada
wajahnya, “Hahahahaha…. Lupakan saja”,
kataku mencairkan
suasana. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, dan ketika akan melangkah
tiba-tiba dia menahan tanganku dan bisa ku rasakan dadanya yang hangat
menyentuh punggungku.
“Seandainya aku
terlahir kembali nanti, aku berharap kita bertemu sebagai orang biasa”, bisiknya kemudian
melepaskan pelukannya dan pergi.
Semua
pasukan telah siap berperang. Aku memimpin pasukan. Dan dalam hitungan tiga
kami menyerang pemberontak dan penkhianat-pengkhianat yang telah merebut
kerajaan dan menyiksa rakyatku. Satu persatu pasukan kami tumbang, harus diakui
pasukan mereka sangat kuat. Aku tetap menebaskan pedangku dengan membabi buta, Aku
harus merebut tahta ayahku kembali dan satu-satunya cara adalah dengan
melumpuhkan raja yang sekarang, yang dulu adalah komandan perang yang telah
membunuh ayahku.
“Kau begitu
berani, datang mengantar maut Tuan Putri”,
katanya mengejek.
“Kau harus membayar untuk
apa yang telah kau lakukan untukku, ayahku, dan rakyatku!”, kataku. Aku pun
menyerang dan kami berduapun bertarung. Tubuhku sudah lemah, basah oleh keringat bercampur darah.
“Kau hanya
seorang wanita Tuan Putri, hahaha….”,
tawanya.
Aku merasa tidak
sanggup lagi untuk melawannya, dia terlalu kuat. Aku hanya bisa meringis
kesakitan. Dia tendang jauh pedang yang tergeletak di depanku. Tanpa banyak
bicara dia angkat pedangnya untuk ditancapkan padaku, namun seseorang menolongku.
“E..laa..ng..”
lirihku.
“Bodoh! kenapa
kau meninggalkan pasukan dan berjuang sendirian?”, katanya menahan amarah melihat
keadaanku. Dia melawan dengan berani, meskipun dia telah banyak terluka, meski
dengan darah yang mengalir. Dia kehilangan pedangnya dan berada diambang maut.
Entah mendapatkan kekuatan darimana aku berlari kearah raja jahat dan menusukkan
belatiku di pungungnya. Dia sempoyongan dan berbalik mengarah padaku, dengan
geram dia menebaskan pedangnya padaku, namun seseorang menghadang tepat di
depanku, aku bisa melihat pedang menembus perutnya dengan darah yang mengalir.
Dia tersenyum padaku dan menyentuh lembut pipiku, kemudian berbalik dan
menembuskan belati tepat di jantung si raja jahat. Raja pemberontak dan
pengkhianat-pengkhianat itupun roboh bersimbah darah. Elang pun tergeletak tak
berdaya, dengan susah payah kami meraih tangan kami masing-masing.
“Aku sudah
bilang akan melindungimu putri”,
lirihnya dengan susah payah.
Aku hanya bisa
menangis, kurasakan tangannya menjadi dingin, dan kulihat tubuhnya tak lagi
bergerak. Ksatriaku tiada.
“Tuhan…..
Di masa yang akan datang, biarkan aku menikmati hidup dengan orang-orang yang
aku cintai dan mencintaiku”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar