Selasa, 23 Juni 2015

Darah Ksatria



Namaku adalah Purnama, putri dari Raja Bima. Raja dari kerajaan Anggrek Bulan. Seorang Raja yang terkenal baik hati, bijaksana, dan bisa membuat makmur negerinya. Dia bukan hanya Raja yang baik untuk rakyatnya tapi juga seorang Ayah yang hebat bagiku.
Suatu hari, negeri kami tiba-tiba di serang oleh pasukan berkuda. Mereka menyerang kerajaan kami dan memporak porandakan negeri kami.
“Apa yang terjadi Ayah?”, tanyaku pada Ayah yang tengah gelisah di singgasananya. Tapi Ayah hanya diam membisu.
“Mereka akhirnya datang” desisnya.
“Siapa mereka? kenapa mereka menyerang kerajaan kita Ayah? Apa yang pernah Ayah lakukan hingga mereka harus perang melawan kita?” tanyaku beruntun.
“Kau harus pergi dari sini putriku, setidaknya kau harus hidup”, tatapnya sembari membelai lembut rambut panjangku.
“Tidak! aku akan tetap disini bersama Ayah apapun yang terjadi”, tegasku.
Tiba-tiba datang komandan perang menghampiri kami. “Yang Mulia Raja, semua sudah siap kita harus pergi dari sini”, katanya dengan penuh hormat.
“Bagaimana dengan rakyatku?”
“Negeri kita sudah hancur Yang Mulia, kita harus menyelamatkan diri. Ini juga yang jadi keinginan rakyat Yang Mulia. Mereka ingin Rajanya selamat”.
“Aku tak bisa membiarkan kerajaanku jatuh ke tangan mereka!”
“Kita tak punya banyak waktu Raja. Satu-satunya jalan, kita melarikan diri dari sini dengan pasukan  dan rakyat kita yang masih ada, kemudian kita kumpulkan kekuatan untuk merebut kerajaan ini kembali”.
Lama Ayah termenung, “Baiklah.. Kau benar. Mari kita lakukan! Dimana sisa pasukan dan rakyat kita?” katanya kemudian.
“Mereka menunggu di pintu utara Yang Mulia.”
Kami bertiga dan beberapa pengawal menyelinap pergi menuju pintu utara. Sang komandan memimpin di depan. Namun tiba-tiba ia berbalik dan menebaskan pedangnya ke para pengawal.
“Maaf, mulai sekarang aku bukan bagian dari kalian”, katanya dengan senyum sinis.
“Pengkhianat!!” teriak Ayahku penuh amarah.
Merekapun bertarung dan kemudian sebuah pedang berhasil tertancap tepat di dada Ayahku.
“Lari nak, lari…..” lirihnya penuh rasa sakit. Aku hanya bisa diam terpaku menyaksikan ayahku sendiri terkapar bersimbah darah. Sang komandan menuju ke arahku,
“Kaupun harus mati!” katanya. Dia hampir menusukkan pedangnya ke dadaku hingga seekor naga datang dan menyelamatkanku. Naga itu membawaku pergi ke sebuah tempat yang sangat asing, sebuah gua yang berada di atas tebing.
Naga itu menyerahkanku kepada seorang pemuda berbadan tinggi tegap. Pemuda itu langsung bersimpuh di hadapanku dan berkata, “Hormatku untuk Yang Mulia Putri Purnama”.
“Siapa kamu?” selidikku.
“Tenang aku bukan pengkhianat. Putri memang tak mengenalku, tapi Yang Mulia Raja mengenalku dengan baik. Inilah alasanku menyelamatkamu putri, tapi sepertinya aku terlambat menyelamatkan Yang Mulia Raja”, ucapnya dengan nada sedih. Kemudian dia mengeluarkan sebuah belati, belati yang hanya ada dua di dunia ini. Pertama milik ayahku dan yang kedua milikku.
“Bukankah kau memilikinya juga? Yang Mulia Raja memberikan ini padaku. Dia bilang dia mempercayaiku untuk memiliki ini setelah putrinya. Oh ya, namaku Elang. Ketika kecil, Yang Mulia Raja pernah menyelamatkaku dengan mempertaruhkan nyawanya. Oleh karena itu aku berjanji untuk setia dan menyerahkan hidupku untuk mengabdi padanya”.
“Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu? Kau akan membunuhku bukan? Kau bagian dari mereka!” seketika tangisku menyeruak.
Dia menyentuh pundakku dengan ragu, “Kau boleh mempercayainya atau tidak, tapi seperti itulah kenyataannya.” Dia kemudian mengelus naganya, “Namanya Rambo, temanku sejak kecil. Hadiah dari ayahmu. Sebenarnya Yang Mulia Raja sudah curiga sejak dulu akan terjadi kudeta seperti hari ini. Oleh karena itu diam-diam dia membangun kekuatan dengan mengumpulkan dan melatih pasukan lain, dan mempercayakannya padaku. Dia sudah tahu hari ini akan terjadi, pemberontakan dan pengkhianat akan menyerang”.
Dia menceritakan semuanya padaku. Entah kenapa aku merasa memiliki kekuatan baru, kekuatan untuk merebut kembali kerajaan dan menghukum pengkhianat-pengkhianat yang memporak porandakan negeriku dan membunuh ayahku. Aku bertekad untuk masuk ke dalam pasukan perang, dan menjalani pelatihan sebagaimana mestinya seorang prajurit.
Elang, melihatnya, aku merasa melihat cerminan ayahku. Tatapan matanya yang tajam, Sikap dia yang dingin namun sebenarnya memiliki hati yang hangat. Diam-diam aku menaruh perasaan padanya, seperti pencuri, aku selalu mencuri pandang padanya. Tapi dia hanya menganggapku sebagai seorang Tuan Putri yang harus dia lindungi, tidak kurang dan tidak lebih.
            Brruuukk… Tiba-tiba ada suara benda jatuh dari langit. “Rambo!” teriak Elang. Rambo tergeletak tak berdaya, dia sekarat dengan tancapan panah di sekujur tubuhnya. Untuk pertama kalinya aku melihat Elang menangis, kehilangan teman terbaiknya.
“Kapan kita menyerang?” tanyaku dengan mantap. Elang hanya menatapku dalam, dia mencari sebuah keyakinan. “Kita rebut kembali kerajaan, ini perintah!” kataku meyakinkan. Elang pun hanya mengangguk.
            Sejak malam kami dan seluruh pasukan sudah mempersiapkan semuanya. Sebuah penyerangan tiba-tiba, untuk merebut yang seharusnya milik kami.
“Aku akan melindungimu putri, aku akan selalu berada di depan untuk melindungimu”, ucapnya dengan senyum simpul di wajahnya.
“Terima kasih selalu menjagaku, memberiku kekuatan”.
“Purnama, di bawah bulan purnama”, lirihnya sembari menatap langit, kemudian menoleh ke arahku. Bola mata kami bertemu, tiba-tiba suasana menjadi hening, dan terasa canggung.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku tiba-tiba.
“Tentu”, jawabnya.
“Seandainya aku bukanlah seorang putri, apa kau akan menyukaiku?”, lanjutku. Aku bisa merasakan kekagetan pada wajahnya, “Hahahahaha…. Lupakan saja”, kataku mencairkan suasana. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, dan ketika akan melangkah tiba-tiba dia menahan tanganku dan bisa ku rasakan dadanya yang hangat menyentuh punggungku.
“Seandainya aku terlahir kembali nanti, aku berharap kita bertemu sebagai orang biasa”, bisiknya kemudian melepaskan pelukannya dan pergi.
            Semua pasukan telah siap berperang. Aku memimpin pasukan. Dan dalam hitungan tiga kami menyerang pemberontak dan penkhianat-pengkhianat yang telah merebut kerajaan dan menyiksa rakyatku. Satu persatu pasukan kami tumbang, harus diakui pasukan mereka sangat kuat. Aku tetap menebaskan pedangku dengan membabi buta, Aku harus merebut tahta ayahku kembali dan satu-satunya cara adalah dengan melumpuhkan raja yang sekarang, yang dulu adalah komandan perang yang telah membunuh ayahku.
“Kau begitu berani, datang mengantar maut Tuan Putri”, katanya mengejek.
Kau harus membayar untuk apa yang telah kau lakukan untukku, ayahku, dan rakyatku!”, kataku. Aku pun menyerang dan kami berduapun bertarung. Tubuhku sudah lemah, basah oleh  keringat bercampur darah.
“Kau hanya seorang wanita Tuan Putri, hahaha….”, tawanya. 
Aku merasa tidak sanggup lagi untuk melawannya, dia terlalu kuat. Aku hanya bisa meringis kesakitan. Dia tendang jauh pedang yang tergeletak di depanku. Tanpa banyak bicara dia angkat pedangnya untuk ditancapkan padaku, namun seseorang menolongku.
“E..laa..ng..” lirihku.
“Bodoh! kenapa kau meninggalkan pasukan dan berjuang sendirian?”, katanya menahan amarah melihat keadaanku. Dia melawan dengan berani, meskipun dia telah banyak terluka, meski dengan darah yang mengalir. Dia kehilangan pedangnya dan berada diambang maut. Entah mendapatkan kekuatan darimana aku berlari kearah raja jahat dan menusukkan belatiku di pungungnya. Dia sempoyongan dan berbalik mengarah padaku, dengan geram dia menebaskan pedangnya padaku, namun seseorang menghadang tepat di depanku, aku bisa melihat pedang menembus perutnya dengan darah yang mengalir. Dia tersenyum padaku dan menyentuh lembut pipiku, kemudian berbalik dan menembuskan belati tepat di jantung si raja jahat. Raja pemberontak dan pengkhianat-pengkhianat itupun roboh bersimbah darah. Elang pun tergeletak tak berdaya, dengan susah payah kami meraih tangan kami masing-masing.
“Aku sudah bilang akan melindungimu putri”, lirihnya dengan susah payah.
Aku hanya bisa menangis, kurasakan tangannya menjadi dingin, dan kulihat tubuhnya tak lagi bergerak. Ksatriaku tiada.

“Tuhan….. Di masa yang akan datang, biarkan aku menikmati hidup dengan orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar