Ini
tentang aku dan dia
Tentang
persahabatan
Tentang
mimpi
Dan
tentang rasa yang tersembunyi
-Senja-
Bersamamu
waktu terasa berjalan begitu cepat. Saat bersama, kita saling berbagi pikiran tentang
banyak hal, tentang musik,
sastra, seni, bahkan olahraga, hal yang tak kusukai. Kamu selalu mengatakan
akan menjadi pelukis terkenal. Kamu
akan membuat pameran lukisanmu sendiri di berbagai negara, bukan sekedar
pameran biasa, tapi pameran lukisan yang mempunyai nilai seni tinggi, yang mempunyai nyawa
di setiap coretan kuasnya. Tak mau kalah, akupun mengatakan bahwa aku akan
menjadi penulis ternama, yang karya-karyanya selalu membekas di hati para
pembacanya dan menjadi inspirasi banyak orang. Kita merangkai dan mengukir mimpi kita masing-masing,
kamu di atas kanvas dan
aku di atas kertas.
Diam-diam
aku mulai memperhatikanmu. Menikmati setiap detik waktu kebersamaan kita. Aku
suka tatapan tajam matamu ketika kamu
sedang fokus
pada objek photografimu. Aku suka mendengar suaramu, ketika kamu bernyanyi dengan
gitar usang kesayanganmu. Aku suka wajah seriusmu, ketika jemarimu menari-nari
di atas kanvas. Aku suka ketika kamu
mengacak-ngacak rambutku. Aku sadar, ada sesuatu
yang mulai berubah, sesuatu yang sulit di kendalikan, yaitu perasaan. Dan aku
hanya bisa mencintaimu dalam diam.
“Gue udah punya
pacar!” katamu suatu hari dengan
wajah berseri-seri. Seketika tanganku yang sedang mengetik menjadi kaku, untuk
beberapa saat waktu terasa terhenti. “Ohhh… Selamat! siapa lagi korban lo?” kataku
setelah aku bisa menguasai diriku sendiri dengan pandangan tetap lurus ke layar
laptop. Kamu
memutar tubuhku hingga wajah kita berhadapan. “Dia kuliah di kampus yang sama bareng lo, jurusan akuntansi. Namanya
Adinda, dia cantik, putih, anggun, pokoknya dia cewek yang sempurna”, jawabmu
dengan wajah serius, di akhiri dengan senyuman. Selalu kamu lakukan itu, hal yang
paling aku benci. Senyuman yang bisa melelehkan hati wanita manapun.
Kamu tampak lebih bahagia
sekarang. Mungkin kamu
telah menemukan duniamu, bersama Adinda. Semakin hari kamu semakin rajin datang
ke kampusku, tentu saja untuk menemui Adinda. Aku merasa, kita semakin jauh.
Bahkan untuk menyapamu ketika berpas-pasan saja rasanya sulit. Kita semakin
berjarak, tidakkah kau merasakannya?
Aku
mencari-cari sosokmu. Semalam, lewat telepon kamu berjanji akan menemaniku mendengar
hasil lomba menulis cerpen di kampusku. Berkali-kali aku mencoba menghubungimu
namun tak ada jawaban. Hingga hasil lomba diumumkan, sosok yang kutunggu tak
kunjung datang. Aku sangat kecewa. Entah sebagai apa, entah sebagai sahabat
atau sebagai seorang wanita.
Dari
jauh, aku melihatmu berlari terburu-buru ke arahku, namun seseorang
menghentikan langkahmu. Ya, Adinda. Kamu
sempat melihat ke arahku, memasang wajah menyesal meminta maaf. Dan aku, hanya
bisa melihat punggungmu semakin menjauh. Aku lupa ada dia.
“Gue
cuma mau bilang, gue berhasil jadi juara pertama. Gue menang, gue semakin yakin
kalau mimpi gue semakin deket. Gue bahagia banget, dan gue pengen berbagi
kebahagiaan sama lo, Langit!!!” kataku lirih menahan tangis, menatap piala
pertama kemenanganku. Tapi rasanya, ini tak berarti lagi buatku sekarang.
----------
-Langit-
Entah
kenapa, aku menjadi merasa kesepian. Aku merasa ada yang telah hilang, aku
merasa sendirian. Entah sudah berapa lama aku duduk diam menatap kanvas yang
masih tetap kosong.
“Aku
bosan, sampai kapan kamu akan terus menatap kanvas yang ada di hadapanmu? sudah
satu jam, dan kamu bahkan belum membuat satu garispun?” suara seseorang
mengagetkanku. Aku menoleh dan tersenyum, “Dinda, aku butuh waktu untuk melukis,
aku sedang mencari inspirasi”,
kataku penuh kesabaran.
Seperti biasa, Adinda hanya akan mengeluh, merengek jika dia kusuruh menemaniku melukis.
Bahkan sekarang, rasanya aku tidak bisa menikmati lagi saat-saat aku melukis,
hal yang paling aku sukai, hal yang telah menjadi hidup matiku, impianku. Beda ketika
aku bersama Senja. Ah, Senja, sahabatku yang satu itu, kemana dia? Aku
merindukannya.
Aku dan Senja berteman sejak SMA.
Aku masih ingat pertama kali mengenalnya. Gadis biasa-biasa saja yang terlihat
pendiam dengan senyum malu-malu, namun ternyata setelah mengenalnya dia
merupakan sosok yang mengejutkan, dia ceria dan berisik. Gadis pemimpi. Seorang
yang menyukai seni dan jatuh cinta pada sastra, baginya “art is my soul”. Gadis yang unik, namun kadang jadi terlihat
abstrak karena keunikannya. Namun, justru karena itu aku menyukainya, karena itu aku
dan dia menjadi teman dekat. Dia merupakan pendengar yang baik, partner diskusi
yang menyenangkan, dan seseorang yang rela menemaniku melakukan hal-hal yang
aku sukai, seperti melukis, memotret, selama berjam-jam tanpa protes. Setelah
kami lulus, dia memilih melanjutkan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
bidang yang sangat diminatinya, dan aku memutuskan untuk rehat sejenak dan
masih memilih-milih jurusan yang aku inginkan. Meskipun begitu, kami masih
sering menghabiskan waktu bersama.
Sebenarnya, aku merasa bersalah
padanya, aku telah malanggar janji untuk menemaninya mendengarkan hasil lomba
menulis cerpen di kampusnya. Meskipun itu bukan lomba pertama yang dia ikuti,
namun kudengar dia berhasil menjadi juaranya. Dan itu merupakan kemenangan
pertama untuknya.
----------
Sore itu, Jakarta diguyur hujan.
Seorang laki-laki berlari terburu-buru untuk menghindari air hujan. Dia nampak
membawa dua gelas kopi panas di tangannya.
“Caramel
macchiato kesukaan lo sebagai tanda permintaan maaf tulus dari gue”, katanya menyodorkan
segelas kopi sembari tersenyum manis dengan tampang memelas kepada seorang
wanita. Namun, wanita itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri,
dia hanya menatap lurus ke arah hujan turun.
“Oke,
gue salah, gue minta maaf, gue........” belum sempat laki-laki itu
menyelesaikan ucapannya, wanita itu dengan cepat memotongnya dengan berkata, “gue
tahu lo punya alasan, alasan yang lebih penting dan mendesak, Adinda. Iyakan?
Gue gak marah, gue cuma sedikit kecewa”, kemudian wanita itu mengeluarkan
beberapa tisu dan mengelapkan ke wajah dan tangan laki-laki itu. “Tapi
seenggaknya lo telepon gue, atau misalnya lo gak sempet buat telepon gue, lo angkat
telepon dari gue, kasih tahu kalo lo gak bisa dateng, biar gue gak perlu
nungguin...” lanjutnya sembari terus mengelapi laki-laki yang basah karena terkena
hujan itu. Laki-laki itu hanya diam, menatap wanita tersebut.
Ternyata sejak tadi ada seseorang
yang diam-diam memperhatikan mereka, dia sudah lama berada disana menyaksikan
apa yang terjadi. Dia adalah Adinda.
----------
“Langit,
lusa temen-temen SMA mau pada ngumpul, temu kangen kata mereka. Lo nanti jemput
gue ya?” kata Senja dengan ceria lewat telepon.
“Duh...
lusa gue udah ada janji, kayaknya gue gak bisa”, jawab Langit dengan nada penuh
penyesalan.
“Janji
sama Adinda? Lo bisa ajak pasangan kok, yang lain juga pada bawa pasangan
mereka masing-masing. Yang penting lo dateng, lo kan udah jarang ngumpul sama
anak-anak, mereka bilang ada yang kurang kalo lo gak ada” bujuk Senja, berharap
Langit merubah keputusannya.
“Gue
nggak bisa, sorry banget, lusa gue
mau travelling sama anak-anak
komunitas photograpy ke Baduy. Biasa kita mau motret keindahan alam dan
kebudayaan disana. Lo tahu kan ini kesempatan yang bagus buat gue buat nambah
pengalaman. Bahkan lo pengen banget kan bisa mengunjungi Baduy, lo bilang kalo
Baduy itu tempat yang ngebuat lo penasaran dengan tradisi dan kebudayaannya”,
ucap Langit panjang lebar.
Suara
Senja kemudian berubah, tidak ada lagi nada ceria disana, dia menjawab dengan
lemah, “Gue ngerti, bye...” kemudian Senja mengakhiri percakapannya dengan
Langit.
Di
lain tempat, Langit merasa menyesal telah mengecewakan Senja untuk kesekian
kalinya. Tidak berselang lama Senja menutup teleponnya, Langit mengirimkan
pesan kepada Senja.
|
To: Senja
Maaf ya, gue gak bisa dateng lagi. Tolong, sampein
permintaan maaf gue ke anak-anak yang lain. Gue tahu lo pasti bisa ngerti
alesan gue kan, karena lo sahabat terbaik gue. ;)
|
Adinda
yang mengenalkan Langit dengan komunitas photograpy. Langit mengatakan bahwa
dia merasa telah menemukan rumah baru. Tempat di mana dia bisa berekspresi dan sharing dengan orang-orang hebat dan
menginspirasi yang ada di dalam komunitas tersebut. Sejak saat itu, Senja
semakin merasa jauh dari Langit. Senja mengerti mengapa Langit tak sesering
dulu menghabiskan waktu bersamanya, karena sekarang sudah ada Adinda. Bagaimanapun
Senja harus bisa memahami dimana posisinya. Akan tetapi, semakin waktu berlalu
Senja merasa Langit mulai berubah. Bukan hanya jarang menghabiskan waktu
bersama seperti dulu, bahkan mereka sudah jarang berkomunikasi satu sama lain.
Bukan Senja tidak pernah terlebih dahulu memulai untuk menghubunginya, hanya
saja setiap Senja meneleponnya, Langit tidak sempat untuk mengangkat teleponnya
dan kemudian hanya mengirim pesan bahwa tadi dia sedang sibuk sedang ini atau
sedang itu, bersama Adinda atau komunitas photograpynya lalu meminta maaf, dan
pesan itu akan berakhir dengan Senja yang menunggu balasan dari Langit.
Senja
pun tak bisa serta merta menghakimi perubahan Langit. Karena mungkin, bagi
Langit justru dia berubah menjadi lebih baik, dan yang terpenting untuk Senja
adalah bagaimanapun itu, Langit terlihat bahagia dengan semuanya, itu saja
cukup.
----------
Adinda
duduk di samping Senja yang tengah tertidur di perpustakaan, dan berkata, “Kamu
tahu Langit akan melanjutkan study ke Perancis? Dia mau ngambil jurusan
arsitek. Minggu depan dia sudah harus berangkat”.
Senja
langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya, “Langit?” tanyanya dengan
wajah terkejut.
“Dari
ekspresimu sepertinya kamu belum tahu”, lanjut Adinda. Senja langsung bergegas
membereskan buku dan alat tulisnya kemudian pergi meninggalkan Adinda dengan
mata yang mulai memerah.
Senja
menemui Langit di rumahnya, saat itu Langit tengah duduk santai di belakang
rumahnya sambil mendengarkan musik. “Selamat Langit, gue berharap study lo
lancar di sana”, kata Senja tiba-tiba sembari mengulurkan tangannya untuk
berjabat tangan dengan Langit.
Langit
nampak terkejut, dia melepas earphone
dari telinganya kemudian membalas jabatan tangan Senja. “Iya, Senja, terima
kasih” ucap Langit gelagapan.
Air
matapun tumpah dari mata Senja, air mata yang sejak tadi ia tahan agar tidak
keluar, “Tapi kenapa lo gak ngasih tahu gue? Kenapa gue harus tahu dari orang
lain? Lo tahu, gue bahagia banget lo udah bisa mutusin mau lanjutin study kemana, gue bahagia sahabat gue
akhirnya udah nemuin jalannya. Gue bangga sahabat gue bisa kuliah ke luar
negeri”, isaknya.
Langit
berusaha menenangkan Senja, dia berkata dengan tenang, “gue cuma gak tahu
gimana caranya gue ngasih tau semuanya ke lo, karena gue tahu lo bakal jadi
orang yang paling bahagia dan terus menerus ngasih semangat ke gue meskipun
pada saat yang sama lo ngerasa sedih karena gue bakal pergi jauh, tapi lo gak
akan sedikitpun menunjukkan rasa khawatir, lo akan terus ngasih kekuatan dan
tersenyum sama gue. Senja, sebenernya gue takut, gue takut gak akan mampu...”
Senja
memegang tangan Langit, memandang matanya dan berkata, “sejak kapan lo jadi
pengecut? Mana Langit yang gue kenal karena mimpi besarnya? Lo tahu, kadang
kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan. Lo cuma perlu percaya sama impian
lo, sama diri lo sendiri, dan semua orang yang ngedukung lo”.
“Senja,
seandainya lo nyuruh gue tinggal, gue mungkin gak akan pergi”, ucap Langit
dalam hati.
Hari
itupun tiba, hari kepergian Langit ke Perancis. “Buka ini, kalo udah duduk di
pesawat”, bisik Senja sambil tersenyum menyerahkan sebuah amplop merah muda.
Orang tua Langit memeluk anak tunggal mereka sebagai salam perpisahan, dan
Adinda terus menerus menangis melepas kepergian Langit. “Jangan nangis terus,
aku bakal jaga diri baik-baik di sana, kamu juga harus jaga diri baik-baik
selama aku nggak ada di sini. Aku akan kembali”, kata Langit menghibur Adinda.
Langit pun check in pesawat. Setelah naik pesawat dan mendapatkan tempat
duduknya, dia membuka amplop merah muda yang di berikan Senja. Langit
tersenyum. Amplop itu berisikan sebuah photo, photo pertama yang mereka ambil
saat masih kelas satu SMA, dan sepucuk surat yang bertuliskan:
Selamat
ulang tahun ke-19, Langit. Always be happy. Gue tahu, gue ngucapin lebih cepat
10 hari dari seharusnya. Cuma gue ngerasa harus ngucapin sekarang juga, biar
terlihat SO SWEET (lo kan tahu sendiri gue orangnya sok puitis sama sok
romantis :D) dan hanya dengan cara ini gue bisa jadi orang pertama yang
ngucapin selamat ulang tahun sama lo. Hahahaha..... Nanti, lo pasti sibuk sama
kegiatan lo di sana, bakalan susah buat komunikasi, gue takut kalo gue
ngucapinnya nanti, nggak akan di baca sama lo. Dan gue bakal segan untuk sering-sering
menghubungi lo, gue takut ganggu study lo (gue mah gitu orangnya, gak enakan
:D).
Gue
berharap suatu saat nanti kita ketemu lagi, lo masih Langit yang sama, Langit
yang gue kenal. Gak berubah, masih sama kayak Langit yang ada di photo ini. Sampai
bertemu lagi di Indonesia, Langit. Sukses untuk kita berdua.
-Senja-
Sementara
itu, di dalam taxi, Senja sudah tidak dapat menahan air matanya lagi. Dia pun
akhirnya menangis.
----------
Dua
tahun berlalu. Sejak saat itu, sejak kepergian Langit, Senja terus menunggu
Langit, dia selalu menunggu Langit kembali. Namun dia sadar, ada seseorang yang
juga menunggu Langit, yaitu Adinda. Meskipun begitu, dia berharap, dia menjadi
salah satu orang yang ingin Langit temui saat Langit kembali.
Akan
tetapi, sepertinya Senja keliru. Langit memang kembali, namun bukan untuknya.
Senja mendapatkan kabar Langit akan pulang ke Indonesia selama beberapa hari
dari Ayahnya Langit. Beberapa bulan kepergian Langit ke Perancis, mereka masih
saling menyapa meski hanya lewat percakapan singkat. Namun setelah itu, mereka
kehilangan komunikasi sama sekali.
Sudah
dua hari Langit berada di Indonesia. Lusa, Langit harus sudah kembali ke
Perancis. Akan tetapi, Langit belum juga menghubungi Senja, begitupun Senja
yang tidak tahu bagaimana harus menghubungi Langit. Senja pun mendatangi rumah
Langit. Namun, ternyata Langit belum pulang ke rumah. “Langit belum pulang,
neng... Ayah sama Ibu juga belum sempat quality
time sama Langit. Dia kalau pulang malam, pas kita mau tidur, pagi kita bangun,
dia masih tidur, kalau dia bangun kita udah berangkat ke kantor, kita pulang
dari kantor dia pergi”, curahan hati Ayah Langit. Senja hanya tersenyum
kemudian pamit pulang.
Besoknya
di kampus, Senja melihat Langit bersama Adinda. Mereka pun saling berpas-pasan.
Langit tersenyum, kemudian mereka saling berjabatan tangan. Langit terlihat
sangat canggung dan Senja merasakan jarak antara mereka. Tak ada sepatah
katapun keluar dari bibir mereka. “Ayo Langit, yang lain sudah menunggu kita”,
kata Adinda tiba-tiba. Langit pun pamit untuk pergi.
“Setiap
orang berubah, dan kemudian mulai memilih dimensi yang tidak mengikutsertakan
kita lagi di dalamnya. Atau aku yang tidak mengikuti perubahan?” ucap Senja
dalam hati menatap Langit yang semakin menjauh. Pertemuannya dengan Langit saat
itu, benar-benar membuat Senja merasa terluka. Ternyata hanya segitu saja arti
persahabatan mereka bagi Langit.
Senja
sedang membaca mading ketika Adinda menghampirinya. “Hai Senja....”, sapa
Adinda.
“Eh,
Adinda... Hai juga Din”, jawab Senja. “Aku duluan yah”, kata Senja kemudian.
“Senja,
aku tahu kamu menyukai Langit. Bukan sekedar menyukai sebagai sahabat, tapi
perasaan suka seorang wanita kepada seorang laki-laki”, kata-kata Adinda
menghentikan langkah kaki Senja. “Aku tidak bodoh, Senja. Sudah sejak lama aku
mengetahuinya. Tapi kamu harus tahu, sekarang dia adalah milikku, takkan
kubiarkan seorang pun merebutnya. Sebut saja aku egois, tapi aku harus melewati
waktu yang panjang untuk memperjuangkan hubungan kami sampai bisa ke tahap ini.
Kami bahkan telah berkomitmen. Berhentilah menunggunya, itu hanya akan
membuatmu terluka. Langit sudah menyadari perasaanmu padanya. Dia sempat goyah,
tapi akhirnya dia sadar, dia hanya menganggapmu sebagai teman. Sebagai bagian
dari masa remajanya, seperti teman-temannya yang lain. Dia hanya melihatmu
sebagai episode kehidupannya. Bagimu dunianya adalah duniamu, tapi duniamu
bukanlah dunianya”, lanjut Adinda dengan nada meninggi.
Senja
berbalik dan tersenyum, “Bagaimana bisa kamu mengatakan seseorang adalah
milikmu, padahal dia adalah milik Tuhan-Nya? Maaf, jika perasaan ini salah.
Hanya saja, bukankah setiap orang mempunyai hak untuk menyukai siapapun?
Seperti halnya kamu menyukai dia. Bahkan ketika dia memilih untuk menyukaimu.
Perasaan kalian itu urusan kalian, dan perasaanku milik diriku sendiri. Aku tidak
pernah meminta dia untuk membalasnya. Aku tidak pernah ingin perasaanku
membebaninya. Oleh karena itu sampai saat ini, aku tidak pernah mengatakannya.
Karena aku tahu, aku cukup tahu diri” kata Senja dengan mata berkaca-kaca,
kemudian dia pergi meninggalkan Adinda seorang diri.
Tiba-tiba dada Senja terasa begitu
sesak, tanpa sadar dia mulai menitikkan air mata. “Aku tidak pernah ingin
memilikimu Langit, seberapapun aku menyukaimu. Aku suka kata kita sebagai
sahabat, bagaimana mungkin aku meminta lebih dari itu? Tapi, perasaan ini aku
sendiri tidak bisa mengendalikannya. Kalau saja aku bisa menahannya, mungkin
takkan sesakit ini. Begitu takutnya aku kehilanganmu sehingga aku tidak pernah
mengatakannya. Karena aku tahu, akan ada yang berubah, akan ada jarak antara
kita. Dan sekarang, aku benar-benar kehilanganmu. Begitu tidak berartikah
kebersamaan kita selama ini? Aku kira, terlepas bagaimanapun perasaanku padamu,
kamu akan cukup dewasa menyikapinya, bahwa tidak akan pernah ada yang berubah,
kita tetaplah sahabat. Tidakkah kamu berubah terlalu banyak, Langit?” pikir
Senja. Senja terisak, dia merasa sakit hati, bukan karena cinta bertepuk
sebelah tangannya kepada Langit, tapi karena dia telah ditinggalkan sahabatnya.
Aku
mencintaimu karena Allah
dan
kutitipkan semua perasaanku pada-Nya
semoga
kita dipertemukan dalam takdir Allah yang sebaik-baiknya.
Sebagaimana
kisah Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf,
makin
jauh Yusuf darinya
namun,
ketika Zulaikha mengejar cinta Allah
Allah
datangkan Yusuf untuknya.
Meski,
entah siapa yang menjadi Yusufku.
entah
seperti apa rupanya,
Aku
percaya,
dia
adalah seseorang yang Allah hadirkan untuk melengkapiku
membimbingku
menuju surga-Nya.
-Senja-
----------
Gerimis membasahi kota Jakarta sore itu.
Seorang wanita berusia 26 tahunan, mengenakan hijab biru dongker duduk seorang
diri di salah satu sudut cafe. Ia nampak sedang menikmati gerimis dari balik
jendela, ditemani secangkir caramel macchiato panas yang ia pesan.
“Melodi
Senja Pertiwi? Boleh saya minta tanda tangannya, saya penggemar karya-karya
tulisan Anda”, sapa seorang laki-laki tiba-tiba. Dia memberikan buku dengan
judul Gerimis di Awal Tahun. Buku tersebut merupakan salah satu karya Senja.
Ya, Senja kini telah menjadi seorang penulis. Dia menjadi salah satu penulis
muda yang mulai diperhitungkan karya-karyanya.
Senja
mengambil buku itu untuk ia tanda tangani. “Siapa nama Anda?” tanya Senja pada
laki-laki itu.
“Nama
saya Rama...”, jawabnya.
Senja
terdiam sejenak, dia merasa tak asing dengan suara laki-laki itu. Senja
mengangkat kepalanya.
“Langit
Birama”, lanjut laki-laki tersebut sambil tersenyum.
“Langit.....”,
lirih Senja.
Setelah
bertahun-tahun, akhirnya mereka bertemu. Meskipun begitu, tak banyak yang
mereka katakan, hanya saling menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing.
“Kamu
sekarang terlihat berbeda Senja”, ucap Langit memecah keheningan. “Sedang apa
kamu sendirian disini?” lanjutnya kemudian.
“Sedang
menunggu seseorang yang mau diajak ngopi bareng sambil ngobrol yang lama sampai
lupa waktu”, jawab Senja sekenanya.
Langit
tersenyum mendengar jawaban Senja, “ternyata kamu masih sama seperti dulu”,
katanya.
“Aku
masih Senja yang dulu. Tak ada yang berubah, yang berubah hanya tampilan luarku
saja. Tapi aku masih tetap Senja yang sama, gadis yang kamu temui beberapa
tahun yang lalu. Yaaa... mungkin dengan sikap dan pemikiran yang lebih matang.
Bagaimana kabar Adinda, Langit?”
“Dinda,
dia baik-baik saja”.
Lama
mereka terdiam. “Apa yang membawamu pulang, Langit? Kudengar, kamu kebanjiran project di sana setelah kamu lulus”,
tanya Senja memulai percakapan.
“Aku
hanya ingin pulang”, jawab Langit.
“Untuk
sementara, atau seterusnya?”
“Untuk
seterusnya”
“Untuk
sebuah alasan?”
“Ya,
untuk sebuah alasan. Mempersunting wanitaku”, senyum Langit.
-----TAMAT-----
Daebaaakk oenni agi,,,ceritanya bagus,,,like bgt
BalasHapusTerima kasih riri..
BalasHapus